Jumat, 07 Juni 2013
Rabu, 05 Juni 2013
Ramadhan Ya Ramadhan
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, akhirnya bulan yang penuh berkah dan hidayah yang selalu kita tunggu akan menghampiri kita dan Insya Allah kita juga diberi kesehatan dan keselamatan hingga datangnya bulan penuh rahmah, bulan penuh keagungan, bulan dari segala bulan.
Bagi Umat Islam, inilah bulan yang dapat menerangi seluruh alam semesta dan bagi umat manusia secara keseluruhan dan khususnya bagi umat islam. Umat Islam baik itu yang sholatnya penuh, ataupun yang 1 kali 1 hari (Maghrib saja), atau juga 1 kali 1 minggu (sholat jum'at doang), dan dua kali setahun (Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha) selalu memberikan keberkahan baik dari rejeki (lahiriah) maupun dari sisi terangnya hati (bathiniah). Bagi pedagang makanan dan minuman, bulan ramadhan selalu memberikan rezeki dimana biasanya umat islam berduyun2 membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Dan Do'a Untuk Berbuka Puasa pada umumnya adalah :
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Begitu juga dengan ketika akan bersantap sahur, yang salah satu hadist menyatakan :
“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin ialah kurma.” (HR Abu Dawud 2/303, Ibnu Hibban 223, Baihaqi 4/237)
Begitu pula bagi pedagang pakaian, bulan ini melebihi dari bulan biasanya dimana umat islam berlomba2 untuk membeli pakaian baru baik itu walaupun hanya sepotong dan hanya untuk anaknya, tetap memberikan kebahagian tersendiri, karena telah menunaikan salah satu Rukun Islam ke 3 dan hal inipun sesuai dengan Ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
"Wahai orang yang beriman! kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan orang orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa." Surah al Bakarah ayat 183
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Manfaat berpuasa juga dapat dirasakan bagi kaum muslim yang menunaikannya, beberapa diantaranya adalah :
1. Inilah saatnya kaum muslim untuk sadar dan mohon ampun kepada Allah SWT yang mana biasanya makan makanan yang mewah dan selalu tersedia dirumahnya dapat merasakan apa yang dirasakan bagi kaum muslim yang lain yang tidak memiliki uang untuk membeli makanan walaupun untuk 1 kali sehari.
2. Menjaga tubuh agar bisa istirahat di waktu siang karena selama 11 bulan sebelumnya selalu menikmati bisa menikmati kapanpun makan. Karena ada kalanya isi perut beristirahat dari segala macam bentuk makanan yang selalu masuk kedalamnya selama 11 bulan terakhir.
3. Menjaga umat muslim agar selalu mawas diri baik itu ketika berbicara, melihat hal-hal yang tidak baik, karena Bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmah maka disinilah saatnya kita berlomba2 untuk berbuat kebajikan dan Insya Allah apa yang kita lakukan di Bulan penuh berkah ini akan berlanjut untuk seterusnya sehingga setiap hari kita bisa meningkatkan ketaqwaan dan amal kepada Allah SWT.
4. Inilah saatnya kita berlomba2 berbuat beribadah kepada Allah SWT karena selama 11 bulan terakhir mungkin bukan amal yang banyak kita peroleh tetapi keburukan baik karena ucapan, tingkah laku maupun perbuatan kita kepada orang lain.
5. Inilah saatnya kita berziarah kemakam orang tua, andung, atok, nenek, kakek, opung, dan saudara2 kita yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita dan telah bersyukur bertemu dengan Sang Khalik Penciptanya dibandingkan dengan diri kita yang masih harus bertarung dengan kerasnya kehidupan dunia ini. Dengan berziarah, kita selalu diingatkan bahwa hidup tidak selamanya di dunia ini, akan ada saatnya kita meninggal, hanya Allah SWT yang tahu kapan kita bertemu dengan-Nya sesuai dengan janji kita ketika akan hadir di dunia ini.
6. Mengingkatkan kita ada masanya kita di bawah dan tidak selamanya kita berada terus menerus memegang kekuasaan (di atas). 11 Bulan yang telah kita lalui mungkin kita telah lupa bagaimana rasanya menahan rasa lapar, rasa haus mulai terbitnya Matahari (Subuh) sampai tergelincirnya matahari (Maghrib) sehingga ketika masanya datang bulan yang ke 12 berikutnya (Ramadhan) maka rasa lapar dan haus tersebut harus kita hadapi. Sehingga berjaga-jaga itu lebih baik daripada kita tidak berjaga-jaga seperti pepatah yang sering diutarakan "Sesal Kemudian Tiada Arti" dan lebih baik bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Insya Allah dengan doa dan kekuatan hati dan ridho Allah SWT maka Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan hikmah dapat kita jalani menjadi lebih baik lagi dbandingkan pada bulan Ramadhan yang sebelumnya dan untuk bulan2 berikutnya dapat kita jalani lebih baik lagi setelah melewati bulan Ramadhan ini.
Sebelumnya saya mohon ampun kepada Allah SWT apabila ada kata2 yang tidak pada tempatnya dan mohon kritik dan saran dari pembaca bilamana ada kata2 yang kurang berkenan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, akhirnya bulan yang penuh berkah dan hidayah yang selalu kita tunggu akan menghampiri kita dan Insya Allah kita juga diberi kesehatan dan keselamatan hingga datangnya bulan penuh rahmah, bulan penuh keagungan, bulan dari segala bulan.
Bagi Umat Islam, inilah bulan yang dapat menerangi seluruh alam semesta dan bagi umat manusia secara keseluruhan dan khususnya bagi umat islam. Umat Islam baik itu yang sholatnya penuh, ataupun yang 1 kali 1 hari (Maghrib saja), atau juga 1 kali 1 minggu (sholat jum'at doang), dan dua kali setahun (Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha) selalu memberikan keberkahan baik dari rejeki (lahiriah) maupun dari sisi terangnya hati (bathiniah). Bagi pedagang makanan dan minuman, bulan ramadhan selalu memberikan rezeki dimana biasanya umat islam berduyun2 membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Dan Do'a Untuk Berbuka Puasa pada umumnya adalah :
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Begitu juga dengan ketika akan bersantap sahur, yang salah satu hadist menyatakan :
“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin ialah kurma.” (HR Abu Dawud 2/303, Ibnu Hibban 223, Baihaqi 4/237)
Begitu pula bagi pedagang pakaian, bulan ini melebihi dari bulan biasanya dimana umat islam berlomba2 untuk membeli pakaian baru baik itu walaupun hanya sepotong dan hanya untuk anaknya, tetap memberikan kebahagian tersendiri, karena telah menunaikan salah satu Rukun Islam ke 3 dan hal inipun sesuai dengan Ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
"Wahai orang yang beriman! kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan orang orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa." Surah al Bakarah ayat 183
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Manfaat berpuasa juga dapat dirasakan bagi kaum muslim yang menunaikannya, beberapa diantaranya adalah :
1. Inilah saatnya kaum muslim untuk sadar dan mohon ampun kepada Allah SWT yang mana biasanya makan makanan yang mewah dan selalu tersedia dirumahnya dapat merasakan apa yang dirasakan bagi kaum muslim yang lain yang tidak memiliki uang untuk membeli makanan walaupun untuk 1 kali sehari.
2. Menjaga tubuh agar bisa istirahat di waktu siang karena selama 11 bulan sebelumnya selalu menikmati bisa menikmati kapanpun makan. Karena ada kalanya isi perut beristirahat dari segala macam bentuk makanan yang selalu masuk kedalamnya selama 11 bulan terakhir.
3. Menjaga umat muslim agar selalu mawas diri baik itu ketika berbicara, melihat hal-hal yang tidak baik, karena Bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmah maka disinilah saatnya kita berlomba2 untuk berbuat kebajikan dan Insya Allah apa yang kita lakukan di Bulan penuh berkah ini akan berlanjut untuk seterusnya sehingga setiap hari kita bisa meningkatkan ketaqwaan dan amal kepada Allah SWT.
4. Inilah saatnya kita berlomba2 berbuat beribadah kepada Allah SWT karena selama 11 bulan terakhir mungkin bukan amal yang banyak kita peroleh tetapi keburukan baik karena ucapan, tingkah laku maupun perbuatan kita kepada orang lain.
5. Inilah saatnya kita berziarah kemakam orang tua, andung, atok, nenek, kakek, opung, dan saudara2 kita yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita dan telah bersyukur bertemu dengan Sang Khalik Penciptanya dibandingkan dengan diri kita yang masih harus bertarung dengan kerasnya kehidupan dunia ini. Dengan berziarah, kita selalu diingatkan bahwa hidup tidak selamanya di dunia ini, akan ada saatnya kita meninggal, hanya Allah SWT yang tahu kapan kita bertemu dengan-Nya sesuai dengan janji kita ketika akan hadir di dunia ini.
6. Mengingkatkan kita ada masanya kita di bawah dan tidak selamanya kita berada terus menerus memegang kekuasaan (di atas). 11 Bulan yang telah kita lalui mungkin kita telah lupa bagaimana rasanya menahan rasa lapar, rasa haus mulai terbitnya Matahari (Subuh) sampai tergelincirnya matahari (Maghrib) sehingga ketika masanya datang bulan yang ke 12 berikutnya (Ramadhan) maka rasa lapar dan haus tersebut harus kita hadapi. Sehingga berjaga-jaga itu lebih baik daripada kita tidak berjaga-jaga seperti pepatah yang sering diutarakan "Sesal Kemudian Tiada Arti" dan lebih baik bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Insya Allah dengan doa dan kekuatan hati dan ridho Allah SWT maka Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan hikmah dapat kita jalani menjadi lebih baik lagi dbandingkan pada bulan Ramadhan yang sebelumnya dan untuk bulan2 berikutnya dapat kita jalani lebih baik lagi setelah melewati bulan Ramadhan ini.
Sebelumnya saya mohon ampun kepada Allah SWT apabila ada kata2 yang tidak pada tempatnya dan mohon kritik dan saran dari pembaca bilamana ada kata2 yang kurang berkenan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Rabu, 09 Januari 2013
Madu An-Nahlu dan Stamina Anak
Madu adalah salah satu vitamin yang berbentuk minuman yang sangat bergizi, dan hal ini sangat bermanfaat bagi orang yang mengkonsumsinya. Bagi orang dewasa, hal ini akan sangat berguna untuk menunjang kesehatan dan vitalitasnya dalam bekerja, terutama bagi yang selalu membutuhkan pergerakan yang intens dengan cara meminum secara rutin satu sendok makan (boleh dicampur dengan air sedikit atau langsung saja), hal ini tergantung selera masing-masing.
Madu An-Nahlu adalah satu satu produk berkhasiat yang langsung diambil dari Hutan dan disimpan serta tanpa dicampur oleh yang lain alias murni untuk dikemas dalam sebuah botol. Madu An-Nahlu ini juga telah mempunyai izin dari Dinas Kesehatan dengan Izin Dinkes RI P-IRT No. 109 1275 01 631 dengan berat isi 300 ml dan murni isinya adalah madu.
Saya telah mencoba dan menggunakan madu dan Insya Allah ada perbedaan dalam tubuh saya menjadi lebih fit dibandingkan sebelum mengkonsumsinya. Saya meminum madu rutin satu sendok makan tiap malam menjelang tidur dan juga dikonsumsi oleh anak saya setiap anak saya meminum Susu dengan mencampurnya dengan sesendok teh madu.
Bagi anak-anak, madu ini berguna untuk menambah daya ingat, IQ dan EQ-nya, daya tahan tubuhnya, menambah selera makan.
Kejadian yang Insya Allah jangan terulang kembali dalam kehidupan saya pernah dialami anak saya SYIFA tahun akhir 2010 (hampir 3 tahun). Ketika itu saya berangkat kerja, dan sebelum tengah hari saya mendapat telepon dari istri saya bahwa anak saya jatuh dari atas kereta (kebetulan kereta adik sepupu istri saya yang nginap dirumah) dan kuku jempol kakinya terkelupas dan copot sehingga dia menjerit-jerit, istri saya gugup sehingga menyuruh saya pulang saat itu juga. Sesampainya saya dirumah, dengan membacakan Salawat saya menuangkan madu An-Nahlu ke kakinya yang copot kukunya dan Insya Allah dia agak berkurangrasa sakitnya dan menangis tidak seperti semula, selepas itu saya pergi kembali bekerja. Jam 3 sore saya pulang bekerja, saya melihat Syifa sudah bisa melompat kesana kemari dan tidak merasakan sakit, dan berkata kepada saya :"Pa, Syifa dah bisa lompat-lompat, gak sakit lagi", dan saya senang mendengarnya (yang pasti semua itu atas Izin Allah SWT).
Harga Madu An-Nahlu saat ini tidak memberatkan apalagi bila dikaitkan dengan kesehatan dan menambah daya tahan anak dan diri kita. Madu An-Nahlu juga berguna untuk penyakit asma karena teman kerja saya membeli madu dan memberikannya kepada istri dan anaknya dan Insya Allah penyakit asmanya sudah mulai hilang. Saat ini, Madu An-Nahlu dijual dengan harga Rp. 48.000/botol + Madu kecil atau Bee Polen sebagai hadiahnya serta bisa didapatkan dimana saja, dan rata-rata di jual di Apotik. Apabila kesulitan untuk memperolehnya, maka saya dengan senang hati dapat membantu menyediakannya dan disesuaikan dengan ongkos kirimnya.
HP : 0813 9680 3895
Madu An-Nahlu adalah satu satu produk berkhasiat yang langsung diambil dari Hutan dan disimpan serta tanpa dicampur oleh yang lain alias murni untuk dikemas dalam sebuah botol. Madu An-Nahlu ini juga telah mempunyai izin dari Dinas Kesehatan dengan Izin Dinkes RI P-IRT No. 109 1275 01 631 dengan berat isi 300 ml dan murni isinya adalah madu.
Saya telah mencoba dan menggunakan madu dan Insya Allah ada perbedaan dalam tubuh saya menjadi lebih fit dibandingkan sebelum mengkonsumsinya. Saya meminum madu rutin satu sendok makan tiap malam menjelang tidur dan juga dikonsumsi oleh anak saya setiap anak saya meminum Susu dengan mencampurnya dengan sesendok teh madu.
Bagi anak-anak, madu ini berguna untuk menambah daya ingat, IQ dan EQ-nya, daya tahan tubuhnya, menambah selera makan.
Kejadian yang Insya Allah jangan terulang kembali dalam kehidupan saya pernah dialami anak saya SYIFA tahun akhir 2010 (hampir 3 tahun). Ketika itu saya berangkat kerja, dan sebelum tengah hari saya mendapat telepon dari istri saya bahwa anak saya jatuh dari atas kereta (kebetulan kereta adik sepupu istri saya yang nginap dirumah) dan kuku jempol kakinya terkelupas dan copot sehingga dia menjerit-jerit, istri saya gugup sehingga menyuruh saya pulang saat itu juga. Sesampainya saya dirumah, dengan membacakan Salawat saya menuangkan madu An-Nahlu ke kakinya yang copot kukunya dan Insya Allah dia agak berkurangrasa sakitnya dan menangis tidak seperti semula, selepas itu saya pergi kembali bekerja. Jam 3 sore saya pulang bekerja, saya melihat Syifa sudah bisa melompat kesana kemari dan tidak merasakan sakit, dan berkata kepada saya :"Pa, Syifa dah bisa lompat-lompat, gak sakit lagi", dan saya senang mendengarnya (yang pasti semua itu atas Izin Allah SWT).
Harga Madu An-Nahlu saat ini tidak memberatkan apalagi bila dikaitkan dengan kesehatan dan menambah daya tahan anak dan diri kita. Madu An-Nahlu juga berguna untuk penyakit asma karena teman kerja saya membeli madu dan memberikannya kepada istri dan anaknya dan Insya Allah penyakit asmanya sudah mulai hilang. Saat ini, Madu An-Nahlu dijual dengan harga Rp. 48.000/botol + Madu kecil atau Bee Polen sebagai hadiahnya serta bisa didapatkan dimana saja, dan rata-rata di jual di Apotik. Apabila kesulitan untuk memperolehnya, maka saya dengan senang hati dapat membantu menyediakannya dan disesuaikan dengan ongkos kirimnya.
HP : 0813 9680 3895
Sabtu, 08 September 2012
Taubat dan Istighfar : Sangat dibutuhkan Manusia
Telah tsabit dalam kitab Shahihain dari
Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam
bahwa beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman,
Pada sebagian atsar disebutkan: Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
Dikatakan bahwa orang yang berbuat kezhaliman akan ditimpakannya dosa-dosa orang yang dizhaliminya. Sedangkan al Hadhm (sebagimana tersebut dalam ayat di atas) yaitu akan mengurangi amalan-amalan baiknya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Dalam hadits shahih dari Abu Dzar Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari dari Syadad bin Aus Radhiallahu’anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sayyidul istighfar yaitu ucapan seorang hamba yang berbunyi:
Seorang hamba senantiasa berada dalam kenikmatan dari Allah Ta’ala yang hal itu perlu untuk disyukuri. Dan senantiasa berada dalam dosa yang hal itu membutuhkan istighfar. Masing-masing dari dua perkara ini merupakan perkara-perkara yang senantiasa diwajibkan bagi seorang hamba. Karena ia senantiasa berubah keadaannya dalam kenikmatan Allah Ta’al dan dalam keadaan yang lainnya. Dan hal itu membutuhkan taubat dan istighfar.
Oleh karena itu, penghulu anak keturunan Adam dan imamnya orang-orang yang bertakwa, yakni Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beristighfar (memohon ampunan kepada Allah) dalam segala keadaannya.
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits shahih bersabda,
Dalam hadits Abdullah bin Umar,
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
Dalam kitab Shahih Muslim, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
Oleh karena itu disyariatkan beristighfar pada setiap akhir amalan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Sebagian mereka berkata, "Mereka menghidupkan malam-malam mereka dengan sholat, ketika masuk sahur mereka diperintah untuk beristighfar."
Dalam kitab shahih bahwa nabi Shallalahu’alaihi wasallam jika selesai sholat beliau beristighfar 3 kali,
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Allah Subhanahu wata’ala telah memerintah nabi-Nya untuk melakukan hal tersebut, setelah beliau menyampaikan risalah kenabian dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya dan setelah beliau melaksanakan perkara-perkara yang Allah Ta’ala perintahkan yang tidak pernah hal-hal itu dicapai oleh orang lain.
Allah Ta’ala berfirman,
Oleh karena itu, tegaknya agama ini adalah dengan tauhid dan istighfar sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala di awal surah Huud,
Dan firman-Nya,
Dan firman-Nya,
Oleh karena itu disebutkan di dalam sebuah hadits,
Nabi Yunus ‘Alaihis salam berkata,
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam apabila beliau menaiki kendaraan, beliau memuji Allah, kemudian beliau bertakbir 3 kali, lalu beristighfar,
Dan doa kaffarotul majlis (doa penutup majelis) yang biasa beliau ucapkan, berbunyi:
Dan semoga sholawat beriring salam senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam
[Disalin dari kitab Tuhfatul 'Iraqiyah fi A'malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 154-163]
Dikutip dari :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
من
ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه ومن
تقرب إلي شبرا تقربت إليه ذراعا ومن تقرب إلي ذراعا تقربت إليه باعا ومن
أتاني يمشي أتيته هرولة
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku
terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila
dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam
diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan manusia, maka
Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik
dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan
mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan
mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan,
maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (Shahih Muslim no.4832)
أهل
ذكري أهل مجالستي وأهل شكري أهل زيارتي وأهل طاعتي أهل كرامتي وأهل معصيتي
أؤيسهم من رحمتي إن تابوا فأنا حبيبهم لأن الله يحب التوابين وإن لم
يتوبوا فأنا طبيبهم أبتليهم بالمصائب حتى أطهرهم من المعايب
Ahli dzikir-Ku adalah ahli majelis-Ku,
ahli syukur-Ku adalah ahli ziarah-Ku. Orang yang senantiasa taat
kepada-Ku, ia akan mendapatkan kemuliaan-Ku. Orang yang maksiat
kepada-Ku, Aku tidak membuatnya putus asa dari rahmat-Ku. Jika mereka
bertaubat maka Aku adalah kekasih mereka. Sesungguhnya Allah Ta’ala
mencintai orang-orang yang gemar bertaubat. Jika mereka tidak betaubat
maka Aku adalah penyembuh mereka, Aku uji mereka dengan musibah hingga
Aku bersihkan mereka dari dosa-dosa."Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا
"Dan barang siapa mengerjakan amal-amal
yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan
perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan
pengurangan haknya." (Thaahaa: 112)Dikatakan bahwa orang yang berbuat kezhaliman akan ditimpakannya dosa-dosa orang yang dizhaliminya. Sedangkan al Hadhm (sebagimana tersebut dalam ayat di atas) yaitu akan mengurangi amalan-amalan baiknya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَعَلَى
الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَمَا
ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
"Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami
haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada
menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka
sendiri." (an Nahl: 118)Dalam hadits shahih dari Abu Dzar Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ اْلغِفَارِي, عَنْ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم. فِيمَا رَوَىَ عَنِ اللّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىَ أَنّهُ قَالَ:
«يَا عِبَادِي إِنّي حَرّمْتُ الظّلْمَ عَلَىَ نَفْسِي. وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرّماً. فَلاَ تَظَالَمُوا.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ ضَالّ إِلاّ مَنْ هَدَيْتُهُ. فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلّكُمْ جَائِعٌ إِلاّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ. فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ عَارٍ إِلاّ مَنْ كَسَوْتُهُ. فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللّيْلِ وَالنّهَارِ, وَأَنَا أَغْفِرُ الذّنُوبَ جَمِيعاً. فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرُ لَكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ.
يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَهُ».
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku
mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan zhalim itu Aku haramkan di
antara kalian, maka janganlah kalian zhalim dan menzhalimi. Wahai
hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu sesat kecuali orang yang Aku beri
petunjuk kepadamu. Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu lapar
kecuali orang yang Aku beri makan, mintalah makan kepada-Ku, maka Aku
memberi makan kepadamu. Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu
telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, mintalah pakaian
kepada-Ku maka Aku memberi pakaian. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu
bersalah siang dan malam, sedang Aku mengampuni seluruh dosa, mintalah
ampun kepada-Ku, maka Aku mengampunimu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya
kamu tidak akan terhindar dari kemadharatan-Ku, maka berlindunglah dari
kemadharatan-Ku dan kamu tidak akan memperoleh kemanfa’atan-Ku maka
mohonlah kemanfaatan kepada-Ku. Wahai hamba-Ku seandainya orang yang
pertama dan terakhir dari kamu, jin dan manusia dari kalanganmu itu
berada pada hati seseorang yang paling taqwa dari padamu, hal itu tidak
menambah kerajaan-Ku sedikit juapun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang
yang awal dan terkemudian dari padamu, manusia dan jin itu ada pada
orang yang paling jahat dari padamu niscaya tidaklah berkurang dari
kerajaan-Ku barang sedikit juapun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang yang
pertama dan terkemudian, manusia dan jin di kalanganmu berdiri di satu
bukit lalu minta kepada-Ku, dan Aku beri setiap orang akan
permintaannya, maka hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku
melainkan seperti berkurangnya air laut apabila dimasukkan jarum
kepadanya. Wahai hamba-Ku, itu amal-amalmu, Aku hitung semuanya untukmu,
kemudian Aku sempurnakan bagimu. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan
maka pujilah Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu maka
janganlah mencela selain dirinya". (HR. Muslim no. 6306)يَا عِبَادِي كُلّكُمْ ضَالّ إِلاّ مَنْ هَدَيْتُهُ. فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلّكُمْ جَائِعٌ إِلاّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ. فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ عَارٍ إِلاّ مَنْ كَسَوْتُهُ. فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللّيْلِ وَالنّهَارِ, وَأَنَا أَغْفِرُ الذّنُوبَ جَمِيعاً. فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرُ لَكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ.
يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَهُ».
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari dari Syadad bin Aus Radhiallahu’anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sayyidul istighfar yaitu ucapan seorang hamba yang berbunyi:
اَللَّهُمَّ
أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا
عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ
بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ،
وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ
إِلاَّ أَنْتَ
"“Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku,
tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang
menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku
denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang
kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh
karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa
kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 2577)Seorang hamba senantiasa berada dalam kenikmatan dari Allah Ta’ala yang hal itu perlu untuk disyukuri. Dan senantiasa berada dalam dosa yang hal itu membutuhkan istighfar. Masing-masing dari dua perkara ini merupakan perkara-perkara yang senantiasa diwajibkan bagi seorang hamba. Karena ia senantiasa berubah keadaannya dalam kenikmatan Allah Ta’al dan dalam keadaan yang lainnya. Dan hal itu membutuhkan taubat dan istighfar.
Oleh karena itu, penghulu anak keturunan Adam dan imamnya orang-orang yang bertakwa, yakni Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beristighfar (memohon ampunan kepada Allah) dalam segala keadaannya.
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits shahih bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim 4/2076)Dalam hadits Abdullah bin Umar,
وعن
ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قال: كنا نعد لرَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ في المجلس مائة مرة <رب اغفر لي وتب عليّ
إنك أنت التواب الرحيم> رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وَالْتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ
حَدِيْثٌ صحيح.
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,
katanya: "Kami pernah menghitung Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
dalam sekali majlis mengucapkan istighfar sebanyak seratus kali, yaitu:
Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim." Ya Rabbku,
ampunilah aku serta terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha
Penerima taubat lagi Penyayang. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan
Tirmidzi berkata Hadis hasan shahih)Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً
“Demi Allah! Sesungguhnya aku minta
ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari
tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/101)Dalam kitab Shahih Muslim, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat
kepada Allah) padahal sesungguhnya aku minta ampun kepada-Nya dalam
sehari seratus kali.” (HR. Muslim 4/2075)Oleh karena itu disyariatkan beristighfar pada setiap akhir amalan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ
"(yaitu) orang-orang yang sabar, yang
benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan
yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 17)Sebagian mereka berkata, "Mereka menghidupkan malam-malam mereka dengan sholat, ketika masuk sahur mereka diperintah untuk beristighfar."
Dalam kitab shahih bahwa nabi Shallalahu’alaihi wasallam jika selesai sholat beliau beristighfar 3 kali,
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
“Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca
tiga kali). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan
dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik
Keagungan dan Kemuliaan.” (HR. Muslim 1/414)Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
لَيْسَ
عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا
أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ
الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ
لَمِنَ الضَّالِّينَ. ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ
وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Tidak ada dosa bagimu untuk mencari
karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah
bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan
berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya
kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk
orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat
bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al Baqarah:
198-199)Allah Subhanahu wata’ala telah memerintah nabi-Nya untuk melakukan hal tersebut, setelah beliau menyampaikan risalah kenabian dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya dan setelah beliau melaksanakan perkara-perkara yang Allah Ta’ala perintahkan yang tidak pernah hal-hal itu dicapai oleh orang lain.
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي
دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah
dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan
berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah
ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat." (an
Nashr: 1-3)Oleh karena itu, tegaknya agama ini adalah dengan tauhid dan istighfar sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala di awal surah Huud,
الر
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ
خَبِيرٍ. أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ
وَبَشِيرٌ. وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي
فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ
يَوْمٍ كَبِيرٍ
"Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab
yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci
yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad)
adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu
daripada-Nya, dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan
bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia
akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai
kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap
orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
kiamat." (Huud: 1-3)Dan firman-Nya,
قُلْ
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ
إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ
لِلْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah
seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju
kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah
bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)," (Fushshilat: 6)Dan firman-Nya,
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ
وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya
tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan
Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu." (Muhammad:
19)Oleh karena itu disebutkan di dalam sebuah hadits,
يقول الشيطان أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بلا إله إلا الله والاستغفار
"Syaithan berkata: Aku binasakan
manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakan aku dengan Laa Ilaaha
illallah dan istighfar." (hadits maudhu’. Syaikh al Albani
mendhaifkannya dalam kitab Dhaiful Jami’ no.3795)Nabi Yunus ‘Alaihis salam berkata,
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah
termasuk orang-orang yang zalim." (al Anbiyaa’: 87)Nabi Shallallahu’alaihi wasallam apabila beliau menaiki kendaraan, beliau memuji Allah, kemudian beliau bertakbir 3 kali, lalu beristighfar,
بِسْمِ
اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا
كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ}
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ
نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ
أَنْتَ.
“Dengan nama Allah, segala puji bagi
Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami,
padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami
akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah
(3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku,
maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa
kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud 3/34, At-Tirmidzi 5/501, dan lihat
Shahih At-Tirmidzi 3/156)Dan doa kaffarotul majlis (doa penutup majelis) yang biasa beliau ucapkan, berbunyi:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Maha Suci Engkau, ya Allah, aku
memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Ashhaabus Sunan
dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153)Dan semoga sholawat beriring salam senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam
[Disalin dari kitab Tuhfatul 'Iraqiyah fi A'malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 154-163]
Dikutip dari :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Rabu, 05 September 2012
Berbuat Kebajikan Jangan Berharap Balasan di Dunia
Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Penjelasan per-kata
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya: Yakni sesiapa yang menginginkan dengan amal shalihnya itu manfaat duniawi, seperti orang yang berjihad dengan tujuan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna: Kami balas atas amalan mereka di dunia yaitu dengan memberikan mereka kesehatan, keluasan rejeki, dan yang selain daripada itu.
Tidak akan dirugikan: Yakni tidak dikurangi sedikitpun pahala mereka dan sesungguhnya Allah Azza wajalla balas mereka dengannya di dunia bagi siapa yang dikehendaki.
Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia: Yakni dan amalan mereka lenyap, tidak berhak atasnya ganjaran di akhirat karena mereka telah diberikan ganjarannya di dunia.
Dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan: Yakni dan amalan mereka bathil dari asalnya dikarenakan tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, dan amalan mereka sia-sia tidak ada ganjaran baginya (di akhirat).
Penjelasan global
Allah Azza wajalla mengabarkan dalam 2 ayat ini bahwasanya sesiapa yang lemah himmahnya (semangatnya untuk akhirat) dan pendek pandangannya dan menginginkan atas amalan mereka yang shalih ganjaran duniawi, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan membalas mereka atasnya di kehidupan yang hina ini (dunia). Akan tetapi mereka rugi di hari kiamat yang padahal mereka amat sangat butuh kepada ganjarannya. Bahkan sesungguhnya dirinya akan dipalingkan ke neraka karena amal mereka yang shalih yang mereka kerjakan sungguh telah diterima ganjarannya di dunia. Maka sia-sialah, celaka, dan tidak memperbaiki sebab-sebab untuk keselamatannya (di akhirat).
Faidah ayat ini
1. Bahwasanya Allah Jalla wa’ala sungguh telah memberi ganjaran kepada orang kafir di dunia atas amalan baiknya dan inilah pencari dunia, maka bersamanya tidak ada sedikitpun di akhirat dari ganjaran amalannya.
2. Bahwasanya syirik (memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah Ta’ala) menjadikan amalannya sia-sia.
3. Mencari dunia dengan melakukan amalan akhirat adalah bathil.
4. Setiap amalan yang tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, maka amalan itu bathil.
[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]
Dikutip dari Blog Sunniy Salafy
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ
لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا
وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya,
niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan
sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Huud: 15-16)Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya: Yakni sesiapa yang menginginkan dengan amal shalihnya itu manfaat duniawi, seperti orang yang berjihad dengan tujuan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna: Kami balas atas amalan mereka di dunia yaitu dengan memberikan mereka kesehatan, keluasan rejeki, dan yang selain daripada itu.
Tidak akan dirugikan: Yakni tidak dikurangi sedikitpun pahala mereka dan sesungguhnya Allah Azza wajalla balas mereka dengannya di dunia bagi siapa yang dikehendaki.
Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia: Yakni dan amalan mereka lenyap, tidak berhak atasnya ganjaran di akhirat karena mereka telah diberikan ganjarannya di dunia.
Dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan: Yakni dan amalan mereka bathil dari asalnya dikarenakan tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, dan amalan mereka sia-sia tidak ada ganjaran baginya (di akhirat).
Penjelasan global
Allah Azza wajalla mengabarkan dalam 2 ayat ini bahwasanya sesiapa yang lemah himmahnya (semangatnya untuk akhirat) dan pendek pandangannya dan menginginkan atas amalan mereka yang shalih ganjaran duniawi, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan membalas mereka atasnya di kehidupan yang hina ini (dunia). Akan tetapi mereka rugi di hari kiamat yang padahal mereka amat sangat butuh kepada ganjarannya. Bahkan sesungguhnya dirinya akan dipalingkan ke neraka karena amal mereka yang shalih yang mereka kerjakan sungguh telah diterima ganjarannya di dunia. Maka sia-sialah, celaka, dan tidak memperbaiki sebab-sebab untuk keselamatannya (di akhirat).
Faidah ayat ini
1. Bahwasanya Allah Jalla wa’ala sungguh telah memberi ganjaran kepada orang kafir di dunia atas amalan baiknya dan inilah pencari dunia, maka bersamanya tidak ada sedikitpun di akhirat dari ganjaran amalannya.
2. Bahwasanya syirik (memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah Ta’ala) menjadikan amalannya sia-sia.
3. Mencari dunia dengan melakukan amalan akhirat adalah bathil.
4. Setiap amalan yang tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, maka amalan itu bathil.
[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]
Dikutip dari Blog Sunniy Salafy
Senin, 26 Desember 2011
Perayaan Natal Bersama : Halal atau Haram
Fatwa yang Digugat
Fatwa larangan Perayaan Natal Bersama tanggal 7 Maret 1981 ini oleh kaum liberal senantiasa diposisikan sebagai fatwa yang meresahkan masyarakat. Dan seperti biasa, menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada saja sebagian kalangan yang kembali menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama.” Ada yang menyatakan, bahwa yang melarang PNB atau yang tidak mau menghadiri PNB adalah orang yang tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak menghargai multikulturalisme, tidak mau berta’aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta’aruf (QS 49:13). Banyak yang kemudian berdebat tentang “boleh dan tidaknya” menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB itu sendiri.
Marilah kita telaah mitos-mitos tersebut:
PERTAMA, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu berurat berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa dipertanyakan, dalam tataran kenegaraan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan yang mengharuskan Presiden menghadirinya — maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Idul Fithri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra’ Mi’raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan sebagainya.
Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos, khususnya kata “Bersama”. Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti harus melibatkan kaum agama lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti mendorong-dorong umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?
Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana tentang perlunya PNB adalah sebuah ‘keanehan’. Kita tidak pernah mendengar bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fithri Bersama), agar mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fithri atau Idul Adha sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai “Boxing Day” dan hari libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year’s Day (1 Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn’s Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving’s Day (24 November), Christmas Day (25 Desember).
KEDUA, mitos bahwa PNB bertujuan membina kerukunan umat beragama. Mitos ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar umat beragama adalah dengan menghadiri PNB, sehingga orang yang menolak untuk menghadiri PNB dipersepsikan sebagai orang yang tidak toleran dan tidak mau rukun. Padahal, dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium, 14) yang disahkan pada 21 November 1964, dalam Konsili Vatikan II, disebutkan: “Karena satu-satunya Perantara dan jalan keselamatan adalah Kristus, yang hadir di antara kita di dalam Tubuhnya yaitu Gereja… Oleh karenanya tidak dapat diselamatkan orang-orang itu, yang walaupun tahu bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Allah dengan perantaraan Yesus Kristus, sebagai sesuatu yang diperlukan, toh tidak mau masuk ke dalamnya atau tidak mau bertahan di dalamnya.” (Terjemah oleh Dr. J. Riberu, Dokpen MAWI, 1983).
Sementara itu, dalam Islam, kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan dipandang sebagai satu kekeliruan yang amat sangat serius — satu kepercayaan yang dikritik keras oleh al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb). Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasanya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).
Prof. Hamka menyebut tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fithri bersama, karena waktunya berdekatan: “Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima…
Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.”
Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.” (Lihat, buku Hamka, Dari Hati ke Hati, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002).
KETIGA, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara non-ritual dan bukan acara ritual. Dalam ungkapan Din Syamsuddin: “Saya pribadi berpendapat fatwa MUI sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri upacara Natal yang berdimensi ibadah dan keyakinan karena itu wilayah keyakinan masing-masing. Tetapi yang berbentuk seremoni tidak seharusnya terhindari.” Kita patut bertanya, apa kriteria untuk menentukan bahwa suatu kegiatan dalam perayaan Natal adalah “ibadah” dan yang lain adalah “seremoni”. Sebab, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Huston Smith, “Christianity, is basically a historical religion. It is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happenings. (Lihat, Huston Smith, The World’s Religions, (New York: Harper CollinsPubliser, 1991).
Agama Kristen tidak memiliki sistem ibadah yang bersifat “revealed” yang sama untuk semua Kristen sebagaimana dalam Islam. Karena itulah, setiap sekte atau Gereja memiliki tata cara ibadah yang ‘khas’, yang berbeda satu dengan lainnya. Setiap Gereja, pada setiap zaman, dan setiap tempat, dalam membuat kreasi sendiri dalam “ibadah”. Karena itu, dalam konsep Kristen, tidak mudah untuk menentukan, mana yang ibadah atau ritual, dan mana yang non-ritual atau yang seremoni. Misalnya, acara-acara KKR di berbagai hotel atau lapangan, apakah dikategorikan sebagai ibadah aau seremoni? Konsep kenabian (prophecy) dalam agama Kristen berbeda dengan konsep kenabian dan konsep uswah sebagaimana konsep kenabian Islam. Umat Islam memiliki tata cara ibadah yang satu, karena ada contohnya yang jelas, yaitu sunnah Nabi Muhammad SAW. Ke mana pun umat Islam pergi dan dimana pun, kapanpun, orang Islam shalat dengan cara yang sama. Umat Islam takbir, ruku’, sujud, dengan cara yang sama. Bahkan, sejumlah aliran yang disebut “sesat” dalam Islam masih memiliki ibadah yang sama. Dalam Islam sistem ibadah tidak berubah, sudah sempurna sejak awal, di zaman Nabi Muhammad saw. (QS 5:3). Karena itu, bagi umat Islam, mudah menentukan, mana yang ritual dan mana yang non-ritual. Shalat Idul Fithri adalah ritual, tetapi kunjungan ke rumah-rumah setelah shalat Id adalah tradisi, non-ritual. Karena itulah, dalam fatwa MUI tentang PNB yang dikeluarkan tanggal 7 Maret 1981 disebutkan bahwa “Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.” Untuk menjernihkan masalah “ibadah” dan “seremoni” dalam Natal, bagus juga kita tengok sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan sulitnya memisahkan antara yang ibadah dan yang seremoni. Sebab, tradisi ini tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ibadah dan mana yang seremoni?
Remi Silado, seorang budayawan Kristen, menulis kolom di majalah Gatra, edisi 27 Desember 2003. Judulnya “Gatal di Natal”. Beberapa kutipan kolomnya kita petik di sini:
(1) “Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan Natal, “Merry Christmas” –dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya “misa Kristus”– baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.”
(2) “Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.”
(3) “Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan “makang riki puru polote en minung riki mabo” (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk).
(4) “Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru.” Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: “Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau Tidak?” Dikatakan, “Dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis.
Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai “orang suci” oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya, sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan Natal — Natal adalah Yesus.”
KEEMPAT, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat. Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium, 1) juga disebutkan: “Christ is the Light of nations. Because this is so, this Sacred Synod gathered together in the Holy Spirit eagerly desires, by proclaiming the Gospel to every creature, to bring the light of Christ to all men, a light brightly visible on the countenance of the Church.” (Terjemahan oleh Dr. J. Riberu adalah: “Terang bangsa-bangsa adalah Kristus. Karena itu Konsili Suci ini, yang berhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali mewartakan Injil kepada segala makhluk (bdk Mk 16:15) dan menerangi semua manusia dengan cahaya Kristus, yang terpantul pada wajah Gereja).
Dokumen Konsili Vatikan II, Ad Gentes, juga menugaskan, agar semua manusia harus dijadikan sasaran misi. Ad gentes juga menugaskan agar misi Kristen tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semua manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church’s preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).
Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka. Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen. Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik-nya, Redemptor Hominis, (dikeluarkan 4 Maret 1979) menyatakan, bahwa Gereja berkeinginan agar setiap orang dapat menemukan Kristus (The church wishes to serve this single end: that each person may be able to find Christ, so that Christ may walk with each one the path of life).
Lebih jauh lagi ditegaskan dalam Dekrit Dominus Jesus: “The Lord Jesus, before ascending into heaven, commanded his disciples to proclaim the Gospel to the whole world and to baptize all nations: “Go into the whole world and proclaim the Gospel to every creature. He who believes and is baptized will be saved; he who does not believe will be condemned. (Mk 16:15-16); “All power in heaven and on earth has been given to me. Go therefore and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you. And behold, I am with you always, until the end of the world?(Mt 28:18-20; cf. Lk 24:46-48; Jn 17:18,20,21; Acts 1:8).
Sebagai Muslim, kita menghormati keyakinan dan tugas misi kaum Kristen tersebut. Karena itu adalah keyakinan mereka. Paus Yohanes Paulus II pun maklum akan perbedaan mendasar antara Kristen dengan Islam. Dalam sebuah wawancara, Paus mengatakan, bahwa Islam bukan agama penyelamatan. (Islam is not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk Salib dan Kebangkitan Yesus (… in Islam, there is no room for the Cross and the Resurrection). Lebih jauh Paus menyatakan: “Jesus is mentioned, but only as a prophet who prepares for the last prophet, Muhammad. There is also mention of Mary, His Virgin Mother, but the tragedy of redemption is completely absent.” “For this reason,” Paus menyimpulkan, “not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant
from Christianity.” (Lebih jauh tentang pernyataan Paus Yohanes Paulus II, lihat Vittorio Messori (ed.), Crossing The Threshold of Hope by His Holiness John Paul II, (New York: Alfred A. Knopf, 1994).
from Christianity.” (Lebih jauh tentang pernyataan Paus Yohanes Paulus II, lihat Vittorio Messori (ed.), Crossing The Threshold of Hope by His Holiness John Paul II, (New York: Alfred A. Knopf, 1994).
Imbauan
Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim bersedia menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. MUI sama sekali tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal. Mestinya, kaum non-Muslim menghormati keyakinan umat Islam ini, sebagaimana difatwakan oleh MUI. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Karena itu, kita menyesalkan jika kalangan Kristen banyak mengkritik fatwa tersebut. Menganggap fatwa MUI tentang PNB itu tidak sejalan dengan semangat kerukunan umat beragama, adalah penilaian yang berlebihan dan tidak mengormati keyakinan masing-masing agama. Lebih ajaib lagi, jika ada yang mengaku Muslim ikut-ikutan meributkan fatwa ini, seolah-olah merupakan musibah besar bagi bangsa Indonesia, jika PNB hanya dihadiri internal kaum Kristen saja. Kaum yang mengaku liberal ini seringkali aneh jalan pikirannya. Mereka mengaku liberal dan katanya punya misi untuk menanamkan pluralisme dan menghormati perbedaan. Tapi, mereka sendiri bersikap otoriter dan tidak mengormati pendapat dan fatwa MUI soal Natal Bersama. Harusnya mereka menghormati fatwa tersebut dan tidak mencaci maki serta menuduh fatwa itu meresahkan masyarakat, dan sebagainya. Jika mereka sudah “kebelet” mau menghadiri PNB, ya silakan saja. Itu urusan mereka. Tidak perlu berteriak-teriak memaki-maki MUI. Dalam soal PNB ini, MUI hanya menyatakan, bahwa itu hukumnya haram. MUI tidak meminta polisi membubarkan PNB atau tidak meminta orang-orang yang hadir dalam PNB itu ditangkapi. MUI hanya berpendapat, tapi sudah dicaci maki. Karena itu, MUI juga tidak akan memaksa kaum liberal untuk mengikuti fatwa MUI. Jika mereka berpendapat bahwa menghadiri PNB adalah jalan untuk menggapai Ridho Ilahi dan halalan thayyiban, ya itu urusan mereka. Toh, nanti di akhirat tanggung jawabnya juga masing-masing. Wa laa taziru waaziratun wizra ukhraa.
Dalam pandangan Islam, masalah peringatan Hari Besar Agama, sebenarnya sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah saw, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah berat. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca Kitab “Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).
Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas dan kerukunan umat beragama. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum “heresy” karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem. Umar r.a. adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia, bahkan menandatangani perjanjian ‘Iliya’ dengan pemimpin Kristen Jerusalem. Secara tegas Armstrong memuji sikap Umar bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Jerusalem, yang belum pernah dilakukan para penguasa sebelumnya. Ia mencatat : “Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atyau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerusalem memeluk Islam. Jika sikap respek terhadap penduduk yang ditaklukkan dari Kota Jarusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di Jerusalem, dengan sangat baik tentunya. (Lihat, Karen Arsmtrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997).
Namun, kita bisa menyimak, dalam kitab Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim digambarkan, bagaimana ketegasan Umar bin Khatab dalam soal perayaan Hari Besar kaum Yahudi dan Kristen. Beliau meminta kaum Muslim untuk menjauhi Hari Besar agama mereka. Umar r.a. sama sekali tidak menganjurkan kaum Muslim untuk berboncong-bondong merayakan Natal Bersama. Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biarkanlah masing-masing pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi munafik, dengan mencampuradukkan urusan perayaan Hari Raya. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas umat manusia saat ini. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos-mitos yang menyesatkan, bahwa jika orang Islam mau menghadiri Perayaan Natal Bersama, atau orang Kristen mau menghadiri perayaan Idul Fithri Bersama, maka Indonesia akan menjadi negara yang rukun dan maju.
Kita berharap, masing-masing agama bersedia menghormati keyakinan masing-masing dan tidak memaksa secara halus atau terang-terangan untuk melakukan suatu tindakan yang melanggar ajaran agamanya masing-masing. Tentu amat sangat tidak bijaksana, jika umat Islam juga mendesak pemeluk Kristen atau non-Muslim lainnya untuk menghadiri perayaan Idul Fithri. Karena itu, kita juga berharap, terutama kepada para tokoh dan cendekiawan dari kalangan Muslim, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat. Wallahu a’lam.
Dikutip dari Adian Husaini (Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat)
Minggu, 25 Desember 2011
KELEBIHAN BERPUASA PADA 10 MUHARRAM H
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda :
”Sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka”.
”Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”.
Maka berkata Rasulullah S.A.W : "Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura !”
Langganan:
Postingan (Atom)