Rabu, 21 Mei 2014

Gambar Pemimpin Sejati Yang Pandai Berdusta dan Telah Terbukti Tidak Hanya di Mata Allah Sang Pencipta Akan Tetapi Di Mata Rakyat Indonesia

Dalam Islam di pastikan, paradigm seorang munafiq itu, indikasinya adalah, berbicara berdusta, dipercaya rakyat berkhianat, dan kalau berjanji tidak memenuhi janjinya. Sebagaimana sosok 4 orang pahlawan koalisi di PDIP yang menampung para pembohong. Diantaranya Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Jokowidodo dan Megawati. Mereka adalah tokoh opurtunis yang menggayung bahtera kebohongan untuk meraih kekuasaan dengan berbagai cara.
Sebagai kendaraan menuju opurtunisme yang konseptual dalam hidupnya, banyak ujar kata yang dirangkai guna menarik simpati umat, seolah pembela umat, padahal hanya sekedar bergantung hidup dari umat yang menjadi kendaraan mereka menuju ambisi diri.
Surya Paloh Misalnya, lewat Nasdem, berkeliling daerah, seolah Nasdem adalah media social, guna menyelamatkan rakyat dari kesulitan ekonome. Dalam berbagai Wawancara ketua Nasdem Surya Paloh menyatakan dengan Tegas, bahwa Nasdem tak akan pernah berobah menjadi partai, menurutnya Nasdem hanya sebuah kendaraan menuju cita cita rakyat yang butuh bantuan dan perlindungan, terutama yang berkaitan dengan ekonome. Namun janji Surya Paloh bukan janji Gajah Mada, janji Surya Paloh janji seorang yang mengecewakan Hamengku Buwono, yang membuat Pangeran dari Yogyakarta itu keluar dari Nasdem, karena kecewa dengan sikap “Suya Paloh” yang menggiring Nasdem menjadi partai.
Kedua , Muhaimin Iskandar yang pernah kisruh dengan Al marhum Gus Dur, hingga beliau meninggal, masih tidak mengakui keberadaan Muhaimin Iskandar. Muhamin iskandar sebagai ketua PKB, tidak saja mengecewakan Gus Dur waktu itu, tetapi juga mengecewakan Rhoma Irama yang menjadi tumbal kebohongan ketua PKB. Politik Taqiyah ala Syiah, habis manis sepah dibuang. Bahkan keluarga PKB versi Gus Dur hingga saat ini masih tak mau mengakui keberadaan seorang Muhaimin Iskandar, ini termasuk badut politik paling pandai beraksi.
Ketiga Jokowidodo, pernah berjanji menjaga amanah Ibu Kota Jakarta, bahkan bersumpah atas nama “Allah” untuk menjadi Gubenur DKI, meskipun pernah meninggalkan luka membengkak dihati umat Islam, berkaitan dengan kota Solo, meninggalkan aib bagi umat Islam, “Solo” berada dibawa naungan Wali Kota Non Muslim. Dijakarta juga membawa aib bagi umat Islam, membawa seorang Ahok, seorang Kristen orthodox yang masih lengket sikap sikap gerejani, banyak melakukan mutasi dari kalangan Islam, dan melelang jabatan lurah, sehingga menjebak banyak non muslim turut menyembut lelang tersebut, menjadi pilihan utama dan jembatan menuju kekuasaan kaum trinitas.
Janji Joko Widodopun di langgar [maklum sumpah politisi lebih bersifat taqiyah, dusta, apalagi diisukan Syiah oleh Istri Jalal, tokoh Taqiyah Indonesia]. Memang kata hadist seorang anak manusia itu akan dipertemukan dengan sahabatnya yang sealiran, aliran tukang bohong seperti “Jokowi “ sudah pasti koalisinya adalah para opurtunis politik, yang menjadikan media “Taqiyah” [Dusta] sebagai media mencapai tujuan.
Selain Megawati dengan batu tulisnya, terpaksan ditinggal hanya untuk mengkonsumsi dukungan rakyat, terpaksa melempar batu tulis itu, dan keluar dari lingkaran batu Tulis yang berisi dukungan terhadap Prabowo sebagai Presiden 2014. Perjanjian batu tulis, lebih mencerminkan sikap gombal PDIP yang gila jabatan, dan memasong demokrasi diatas kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi
Perjanjian “batu tulis” merupakan sebuah “noda besar” PDIP yang memang sengaja ditnggal, hanya untuk meraih kedudukan semata, bahkan “koalisi” model PDIP itu termasuk “koalisi” numpang hidup saja, yang tidak memiliki pengaruh terhadap kepentingan bangsa dan Negara.
Ini membuktikan kalau PDIP adalah partainya orang orang opurtunis, yang melangkah di bumi pertiwi untuk meraih pencitraan ditengah rakyat, padahal selama PDIP berkuasa, tak ada karya yang menguntungkan bagi umat Islam, melainkan merenggangkan antar umat Islam.(koepas)

Sumber : http://muslimina.blogspot.com/2014/05/wajah-dan-koalisi-para-pendusta.html

Selasa, 20 Mei 2014

Gerakan Mendukung Prabowo - Hatta Rajasa Presiden 2014-2019



 TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Fadli Zon mengatakan pendeklarasian pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di Rumah Polonia dilakukan agar tercatat dalam sejarah. Menurut dia, rumah yang beralamat di Jalan Cipinang Cempedak I Nomor 29 ini memiliki nilai historis yang tinggi.
"Presiden Sukarno pernah tinggal di tempat ini meski sebentar," kata Fadli di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Senin, 19 Mei 2014.
Ia mengatakan Prabowo dan Hatta memiliki kebanggaan lantaran bisa mendeklarasikan niat politik mereka di Rumah Polonia. Menurut dia, sudah sepatutnya deklarasi ini akan diingat generasi mendatang. Rumah Polonia, menurut Fadli, pernah ditinggali oleh beberapa jenderal. Terakhir, kata dia, rumah itu ditempati ayah politikus Partai Demokrat, Hayono Isman.
Koalisi pimpinan Gerindra hari ini menggelar deklarasi pasangan Prabowo-Hatta. Deklarasi digelar sehari sebelum keduanya mendaftarkan diri sebagai peserta pemilihan presiden. Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera, Mardani Ali Sera, mengatakan Prabowo sendiri yang memilih Rumah Polonia sebagai lokasi deklarasi. Rumah itu dianggap menyimpan aroma sejarah yang kental karena pernah dihuni proklamator.
Ketua Umum Gerindra Suhardi mengatakan, setelah deklarasi, Rumah Polonia nantinya digunakan sebagai posko pemenangan Prabowo-Hatta. Koalisi ingin nilai-nilai kejuangan Sukarno menjadi penyemangat tim selama masa kampanye. Prabowo-Hatta sendiri akan bersaing dengan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang diusung koalisi pimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. (Baca: JK Dipilih karena Elektabilitas dan Pengalaman)
AMRI MAHBUB | IRA GUSLINA SUFA

Rabu, 05 Juni 2013

Ramadhan Ya Ramadhan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, akhirnya bulan yang penuh berkah dan hidayah yang selalu kita tunggu akan menghampiri kita dan Insya Allah kita juga diberi kesehatan dan keselamatan hingga datangnya bulan penuh rahmah, bulan penuh keagungan, bulan dari segala bulan.

Bagi Umat Islam, inilah bulan yang dapat menerangi seluruh alam semesta dan bagi umat manusia secara keseluruhan dan khususnya bagi umat islam. Umat Islam baik itu yang sholatnya penuh, ataupun yang 1 kali 1 hari (Maghrib saja), atau juga 1 kali 1 minggu (sholat jum'at doang), dan dua kali setahun (Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha) selalu memberikan keberkahan baik dari rejeki (lahiriah) maupun dari sisi terangnya hati (bathiniah). Bagi pedagang makanan dan minuman, bulan ramadhan selalu memberikan rezeki dimana biasanya umat islam berduyun2 membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Dan Do'a Untuk Berbuka Puasa pada umumnya adalah :
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت
”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Begitu juga dengan ketika akan bersantap sahur, yang salah satu hadist menyatakan :
“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin ialah kurma.” (HR Abu Dawud 2/303, Ibnu Hibban 223, Baihaqi 4/237)


Begitu pula bagi pedagang pakaian, bulan ini melebihi dari bulan biasanya dimana umat islam berlomba2 untuk membeli pakaian baru baik itu walaupun hanya sepotong dan hanya untuk anaknya, tetap memberikan kebahagian tersendiri, karena telah menunaikan salah satu Rukun Islam ke 3 dan hal inipun sesuai dengan Ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
"Wahai orang yang beriman! kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan orang orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa." Surah al Bakarah ayat 183

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manfaat berpuasa juga dapat dirasakan bagi kaum muslim yang menunaikannya, beberapa diantaranya adalah :
1. Inilah saatnya kaum muslim untuk sadar dan mohon ampun kepada Allah SWT yang mana biasanya makan makanan yang mewah dan selalu tersedia dirumahnya dapat merasakan apa yang dirasakan bagi kaum muslim yang lain yang tidak memiliki uang untuk membeli makanan walaupun untuk 1 kali sehari.

2. Menjaga tubuh agar bisa istirahat di waktu siang karena selama 11 bulan sebelumnya selalu menikmati bisa menikmati kapanpun makan. Karena ada kalanya isi perut beristirahat dari segala macam bentuk makanan yang selalu masuk kedalamnya selama 11 bulan terakhir.

3. Menjaga umat muslim agar selalu mawas diri baik itu ketika berbicara, melihat hal-hal yang tidak baik, karena Bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmah maka disinilah saatnya kita berlomba2 untuk berbuat kebajikan dan Insya Allah apa yang kita lakukan di Bulan penuh berkah ini akan berlanjut untuk seterusnya sehingga setiap hari kita bisa meningkatkan ketaqwaan dan amal kepada Allah SWT.

4. Inilah saatnya kita berlomba2 berbuat beribadah kepada Allah SWT karena selama 11 bulan terakhir mungkin bukan amal yang banyak kita peroleh tetapi keburukan baik karena ucapan, tingkah laku maupun perbuatan kita kepada orang lain.

5. Inilah saatnya kita berziarah kemakam orang tua, andung, atok, nenek, kakek, opung, dan saudara2 kita yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita dan telah bersyukur bertemu dengan Sang Khalik Penciptanya dibandingkan dengan diri kita yang masih harus bertarung dengan kerasnya kehidupan dunia ini. Dengan berziarah, kita selalu diingatkan bahwa hidup tidak selamanya di dunia ini, akan ada saatnya kita meninggal, hanya Allah SWT  yang tahu kapan kita bertemu dengan-Nya sesuai dengan janji kita ketika akan hadir di dunia ini.

6. Mengingkatkan kita ada masanya kita di bawah dan tidak selamanya kita berada terus menerus memegang kekuasaan (di atas). 11 Bulan yang telah kita lalui mungkin kita telah lupa bagaimana rasanya menahan rasa lapar, rasa haus mulai terbitnya Matahari (Subuh) sampai tergelincirnya matahari (Maghrib) sehingga ketika masanya datang bulan yang ke 12 berikutnya (Ramadhan) maka rasa lapar dan haus tersebut harus kita hadapi. Sehingga berjaga-jaga itu lebih baik daripada kita tidak berjaga-jaga seperti pepatah yang sering diutarakan "Sesal Kemudian Tiada Arti" dan lebih baik bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Insya Allah dengan doa dan kekuatan hati dan ridho Allah SWT maka Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan hikmah dapat kita jalani menjadi lebih baik lagi dbandingkan pada bulan Ramadhan yang sebelumnya dan untuk bulan2 berikutnya dapat kita jalani lebih baik lagi setelah melewati bulan Ramadhan ini.

Sebelumnya saya mohon ampun kepada Allah SWT apabila ada kata2 yang tidak pada tempatnya dan mohon kritik dan saran dari pembaca bilamana ada kata2 yang kurang berkenan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rabu, 09 Januari 2013

Madu An-Nahlu dan Stamina Anak

Madu adalah salah satu vitamin yang berbentuk minuman yang sangat bergizi, dan hal ini sangat bermanfaat bagi orang yang mengkonsumsinya. Bagi orang dewasa, hal ini akan sangat berguna untuk menunjang kesehatan dan vitalitasnya dalam bekerja, terutama bagi yang selalu membutuhkan pergerakan yang intens dengan cara meminum secara rutin satu sendok makan (boleh dicampur dengan air sedikit atau langsung saja), hal ini tergantung selera masing-masing.

Madu An-Nahlu adalah satu satu produk berkhasiat yang langsung diambil dari Hutan dan disimpan serta tanpa dicampur oleh yang lain alias murni untuk dikemas dalam sebuah botol. Madu An-Nahlu ini juga telah mempunyai izin dari Dinas Kesehatan dengan Izin Dinkes RI P-IRT No. 109 1275 01 631 dengan berat isi 300 ml dan murni isinya adalah madu.

Saya telah mencoba dan menggunakan madu dan Insya Allah ada perbedaan dalam tubuh saya menjadi lebih fit dibandingkan sebelum mengkonsumsinya. Saya meminum madu rutin satu sendok makan tiap malam menjelang tidur dan juga dikonsumsi oleh anak saya setiap anak saya meminum Susu dengan mencampurnya dengan sesendok teh madu.
Bagi anak-anak, madu ini berguna untuk menambah daya ingat, IQ dan EQ-nya, daya tahan tubuhnya, menambah selera makan.

Kejadian yang Insya Allah jangan terulang kembali dalam kehidupan saya pernah dialami anak saya SYIFA tahun akhir 2010 (hampir 3 tahun). Ketika itu saya berangkat kerja, dan sebelum tengah hari saya mendapat telepon dari istri saya bahwa anak saya jatuh dari atas kereta (kebetulan kereta adik sepupu istri saya yang nginap dirumah) dan kuku jempol kakinya terkelupas dan copot sehingga dia menjerit-jerit, istri saya gugup sehingga menyuruh saya pulang saat itu juga. Sesampainya saya dirumah, dengan membacakan Salawat saya menuangkan madu An-Nahlu ke kakinya yang copot kukunya dan Insya Allah dia agak berkurangrasa sakitnya dan menangis tidak seperti semula, selepas itu saya pergi kembali bekerja. Jam 3 sore saya pulang bekerja, saya melihat Syifa sudah bisa melompat kesana kemari dan tidak merasakan sakit, dan berkata kepada saya :"Pa, Syifa dah bisa lompat-lompat, gak sakit lagi", dan saya senang mendengarnya (yang pasti semua itu atas Izin Allah SWT).

Harga Madu An-Nahlu saat ini tidak memberatkan apalagi bila dikaitkan dengan kesehatan dan menambah daya tahan anak dan diri kita. Madu An-Nahlu juga berguna untuk penyakit asma karena teman kerja saya membeli madu dan memberikannya kepada istri dan anaknya dan Insya Allah penyakit asmanya sudah  mulai hilang. Saat ini, Madu An-Nahlu dijual dengan harga Rp. 48.000/botol + Madu kecil atau Bee Polen sebagai hadiahnya serta bisa didapatkan dimana saja, dan rata-rata di jual di Apotik. Apabila kesulitan untuk memperolehnya, maka saya dengan senang hati dapat membantu menyediakannya dan disesuaikan dengan ongkos kirimnya.

HP : 0813 9680 3895

Sabtu, 08 September 2012

Taubat dan Istighfar : Sangat dibutuhkan Manusia


Telah tsabit dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman,
من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه ومن تقرب إلي شبرا تقربت إليه ذراعا ومن تقرب إلي ذراعا تقربت إليه باعا ومن أتاني يمشي أتيته هرولة
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (Shahih Muslim no.4832)
Pada sebagian atsar disebutkan: Allah Ta’ala berfirman,
أهل ذكري أهل مجالستي وأهل شكري أهل زيارتي وأهل طاعتي أهل كرامتي وأهل معصيتي أؤيسهم من رحمتي إن تابوا فأنا حبيبهم لأن الله يحب التوابين وإن لم يتوبوا فأنا طبيبهم أبتليهم بالمصائب حتى أطهرهم من المعايب
Ahli dzikir-Ku adalah ahli majelis-Ku, ahli syukur-Ku adalah ahli ziarah-Ku. Orang yang senantiasa taat kepada-Ku, ia akan mendapatkan kemuliaan-Ku. Orang yang maksiat kepada-Ku, Aku tidak membuatnya putus asa dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasih mereka. Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang gemar bertaubat. Jika mereka tidak betaubat maka Aku adalah penyembuh mereka, Aku uji mereka dengan musibah hingga Aku bersihkan mereka dari dosa-dosa."
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا
"Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaahaa: 112)
Dikatakan bahwa orang yang berbuat kezhaliman akan ditimpakannya dosa-dosa orang yang dizhaliminya. Sedangkan al Hadhm (sebagimana tersebut dalam ayat di atas) yaitu akan mengurangi amalan-amalan baiknya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
"Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (an Nahl: 118)
Dalam hadits shahih dari Abu Dzar Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ اْلغِفَارِي, عَنْ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم. فِيمَا رَوَىَ عَنِ اللّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىَ أَنّهُ قَالَ:
 «يَا عِبَادِي إِنّي حَرّمْتُ الظّلْمَ عَلَىَ نَفْسِي. وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرّماً. فَلاَ تَظَالَمُوا.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ ضَالّ إِلاّ مَنْ هَدَيْتُهُ. فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلّكُمْ جَائِعٌ إِلاّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ. فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ عَارٍ إِلاّ مَنْ كَسَوْتُهُ. فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللّيْلِ وَالنّهَارِ, وَأَنَا أَغْفِرُ الذّنُوبَ جَمِيعاً. فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرُ لَكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً.
 يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ.
يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَهُ».
 
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan zhalim itu Aku haramkan di antara kalian, maka janganlah kalian zhalim dan menzhalimi. Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk kepadamu. Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu lapar kecuali orang yang Aku beri makan, mintalah makan kepada-Ku, maka Aku memberi makan kepadamu. Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, mintalah pakaian kepada-Ku maka Aku memberi pakaian. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu bersalah siang dan malam, sedang Aku mengampuni seluruh dosa, mintalah ampun kepada-Ku, maka Aku mengampunimu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak akan terhindar dari kemadharatan-Ku, maka berlindunglah dari kemadharatan-Ku dan kamu tidak akan memperoleh kemanfa’atan-Ku maka mohonlah kemanfaatan kepada-Ku. Wahai hamba-Ku seandainya orang yang pertama dan terakhir dari kamu, jin dan manusia dari kalanganmu itu berada pada hati seseorang yang paling taqwa dari padamu, hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikit juapun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang yang awal dan terkemudian dari padamu, manusia dan jin itu ada pada orang yang paling jahat dari padamu niscaya tidaklah berkurang dari kerajaan-Ku barang sedikit juapun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang yang pertama dan terkemudian, manusia dan jin di kalanganmu berdiri di satu bukit lalu minta kepada-Ku, dan Aku beri setiap orang akan permintaannya, maka hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku melainkan seperti berkurangnya air laut apabila dimasukkan jarum kepadanya. Wahai hamba-Ku, itu amal-amalmu, Aku hitung semuanya untukmu, kemudian Aku sempurnakan bagimu. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu maka janganlah mencela selain dirinya". (HR. Muslim no. 6306)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari dari Syadad bin Aus Radhiallahu’anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sayyidul istighfar yaitu ucapan seorang hamba yang berbunyi:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
"“Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 2577)
Seorang hamba senantiasa berada dalam kenikmatan dari Allah Ta’ala yang hal itu perlu untuk disyukuri. Dan senantiasa berada dalam dosa yang hal itu membutuhkan istighfar. Masing-masing dari dua perkara ini merupakan perkara-perkara yang senantiasa diwajibkan bagi seorang hamba. Karena ia senantiasa berubah keadaannya dalam kenikmatan Allah Ta’al dan dalam keadaan yang lainnya. Dan hal itu membutuhkan taubat dan istighfar.
Oleh karena itu, penghulu anak keturunan Adam dan imamnya orang-orang yang bertakwa, yakni Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beristighfar (memohon ampunan kepada Allah) dalam segala keadaannya.
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits shahih bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim 4/2076)
Dalam hadits Abdullah bin Umar,
وعن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قال: كنا نعد لرَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ في المجلس مائة مرة <رب اغفر لي وتب عليّ إنك أنت التواب الرحيم> رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وَالْتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ صحيح.
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: "Kami pernah menghitung Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sekali majlis mengucapkan istighfar sebanyak seratus kali, yaitu: Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim." Ya Rabbku, ampunilah aku serta terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima taubat lagi Penyayang. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata Hadis hasan shahih)
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً
“Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/101)
Dalam kitab Shahih Muslim, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) padahal sesungguhnya aku minta ampun kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim 4/2075)
Oleh karena itu disyariatkan beristighfar pada setiap akhir amalan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ
"(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 17)
Sebagian mereka berkata, "Mereka menghidupkan malam-malam mereka dengan sholat, ketika masuk sahur mereka diperintah untuk beristighfar."
Dalam kitab shahih bahwa nabi Shallalahu’alaihi wasallam jika selesai sholat beliau beristighfar 3 kali,
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
“Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” (HR. Muslim 1/414)
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ. ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al Baqarah: 198-199)
Allah Subhanahu wata’ala telah memerintah nabi-Nya untuk melakukan hal tersebut, setelah beliau menyampaikan risalah kenabian dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya dan setelah beliau melaksanakan perkara-perkara yang Allah Ta’ala perintahkan yang tidak pernah hal-hal itu dicapai oleh orang lain.
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat." (an Nashr: 1-3)
Oleh karena itu, tegaknya agama ini adalah dengan tauhid dan istighfar sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala di awal surah Huud,
الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ. وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
"Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya, dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (Huud: 1-3)
Dan firman-Nya,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)," (Fushshilat: 6)
Dan firman-Nya,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu." (Muhammad: 19)
Oleh karena itu disebutkan di dalam sebuah hadits,
يقول الشيطان أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بلا إله إلا الله والاستغفار
"Syaithan berkata: Aku binasakan manusia dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakan aku dengan Laa Ilaaha illallah dan istighfar." (hadits maudhu’. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam kitab Dhaiful Jami’ no.3795)
Nabi Yunus ‘Alaihis salam berkata,
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (al Anbiyaa’: 87)
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam apabila beliau menaiki kendaraan, beliau memuji Allah, kemudian beliau bertakbir 3 kali, lalu beristighfar,
بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud 3/34, At-Tirmidzi 5/501, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/156)
Dan doa kaffarotul majlis (doa penutup majelis) yang biasa beliau ucapkan, berbunyi:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153)
Dan semoga sholawat beriring salam senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam
[Disalin dari kitab Tuhfatul 'Iraqiyah fi A'malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 154-163]

Dikutip dari :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Rabu, 05 September 2012

Berbuat Kebajikan Jangan Berharap Balasan di Dunia


Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Huud: 15-16)

Penjelasan per-kata
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya: Yakni sesiapa yang menginginkan dengan amal shalihnya itu manfaat duniawi, seperti orang yang berjihad dengan tujuan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna: Kami balas atas amalan mereka di dunia yaitu dengan memberikan mereka kesehatan, keluasan rejeki, dan yang selain daripada itu.
Tidak akan dirugikan: Yakni tidak dikurangi sedikitpun pahala mereka dan sesungguhnya Allah Azza wajalla balas mereka dengannya di dunia bagi siapa yang dikehendaki.
Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia: Yakni dan amalan mereka lenyap, tidak berhak atasnya ganjaran di akhirat karena mereka telah diberikan ganjarannya di dunia.
Dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan: Yakni dan amalan mereka bathil dari asalnya dikarenakan tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, dan amalan mereka sia-sia tidak ada ganjaran baginya (di akhirat).
Penjelasan global
Allah Azza wajalla mengabarkan dalam 2 ayat ini bahwasanya sesiapa yang lemah himmahnya (semangatnya untuk akhirat) dan pendek pandangannya dan menginginkan atas amalan mereka yang shalih ganjaran duniawi, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan membalas mereka atasnya di kehidupan yang hina ini (dunia). Akan tetapi mereka rugi di hari kiamat yang padahal mereka amat sangat butuh kepada ganjarannya. Bahkan sesungguhnya dirinya akan dipalingkan ke neraka karena amal mereka yang shalih yang mereka kerjakan sungguh telah diterima ganjarannya di dunia. Maka sia-sialah, celaka, dan tidak memperbaiki sebab-sebab untuk keselamatannya (di akhirat).
Faidah ayat ini
1. Bahwasanya Allah Jalla wa’ala sungguh telah memberi ganjaran kepada orang kafir di dunia atas amalan baiknya dan inilah pencari dunia, maka bersamanya tidak ada sedikitpun di akhirat dari ganjaran amalannya.
2. Bahwasanya syirik (memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah Ta’ala) menjadikan amalannya sia-sia.
3. Mencari dunia dengan melakukan amalan akhirat adalah bathil.
4. Setiap amalan yang tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Azza wajalla, maka amalan itu bathil.
[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]

Dikutip dari Blog Sunniy Salafy