Selasa, 10 Mei 2011

Pedang-pedang Milik Rasulullah SAW

Ini adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya untuk berdakwah, jumlah total pedang yang pernah digunakan ada 9 buah.
1. Al Ma’thur

Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Juga dikenal sebagai ‘Ma’thur Al-Fijar’ adalah pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahnya, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.

2. Al 'Adb

Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al-’Adb, nama pedang ini, berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.

3. Dhu Al Faqar
 
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Dhu Al Faqar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya.
Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.

4. Al Battar

Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi :
‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’. 
Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya :
 
 



Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.

5. Hatf
 

Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992)
Hatf adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun.
Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu.
Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.

6. Al Mikhdham


Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Ada yang mengabarkan bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.

7. Al Rasub

Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.

8. Al Qadib


Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan.
Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat:
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.”
Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.

9. Qal’a


Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang di tambang berbagai lokasi.
Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”
Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.

Kamis, 07 April 2011

Alasan Rosulullah Melarang Ummatnya Minum Sambil Berdiri


Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”. Dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfinger. Sfinger adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum sambil berdiri. Air yang kita minum otomatis masuk tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itu terjadi pengendapan di saluran speanjang perjalanan (ureter). Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.

Betul, penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sungguh berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing, jelas hal ini berhubungan dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi.

Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: "Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri". Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk."

Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lambat. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat azas darurat!

Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

Diriwayatkan ketika Rasulullah s.a.w. dirumah Aisyah r.a. sedang makan daging yang dikeringkan diatas talam sambil duduk bertekuk lutut, tiba-tiba masuk seorang perempuan yang keji mulut melihat Rasulullah s.a.w. duduk sedemikian itu lalu berkata: "Lihatlah orang itu duduk seperti budak." Maka dijawab oleh Rasulullah s.a.w.: "Saya seorang hamba, maka duduk seperti duduk budak dan makan seperti makan budak." Lalu Rasulullah s.a.w. mempersilakan wanita itu untuk makan. Adapun duduk bertelekan (bersandar kepada sesuatu) telah dilarang oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, "Sesungguhnya Aku tidak makan secara bertelekan" (HR Bukhar).

Jumat, 18 Maret 2011

Status Ayah dan Ibu Rasulullah, Muslim atau Kafir?

Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang memiliki kemuliaan dan derajat yang tinggi,baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya diakui oleh Alloh SWT dengan pernyataanNya,Innaka la ‘ala khuluqin ‘adhim, sesungguhnya Engkau (ya,Muhammad) berada diatas akhlak yang agung (QS.Al Qolam 4).Jika yang kecil menyifati sesuatu dengan ‘agung’,yang dewasa belum tentu menganggapnya agung.Tetapi jika Yang Maha Besar Alloh yang menyifati sesuatu dengan kata agung,maka tidak dapat terbayangkan betapa besar keagungannya.Dan sudah tentu,makhluk yang agung tidak keluar kecuali dari rahim yang agung pula !

Nabi Muhammad SAW adalah penghuni bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau dari segi kemuliaan berada di puncaknya. Musuh-musuh beliau memberi pengakuan untuknya atas hal tersebut. Diantara musuh beliau yang memberikan pengakuan akan indahnya nasab beliau adalah Abu Sufyan(sebelum masuk islam), yang dikala itu berhadapan denga penguasa Romawi. Kaum yang paling mulia adalah kaumnya,kabilah yang paling mulia adalah kabilahnya dan marga yang paling mulia adalah marganya (Ibnu Qoyyim al Jauziyah,Zaadul Ma’ad,I/32)

Dan Rasulullah pernah bersabda,”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”(Dinukil oleh Al Hamid Al Husaini,dalam bukunya Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyyah,hal.600-601).Itu artinya Nabi saw adalah manusia tersuci yang telah disiapkan kelahirannya dengan membuatnya keluar dari rahim yang suci pula,yaitu Aminah ra.

Dinukil oleh Ibnul Jauzi,dalam kitab Al Wafa’ (terjemahan),hal.74 :Abdurrahman bin ‘Auf berkata,”Ketika Rasulullah saw dilahirkan,ada jin yang berbicara di bukit Abu Qubais di daerah ‘Ujun- yang pada mulanya tempat itu adalah sebuah kuburan dan orang-orang Quraisy merusakkan pakaian mereka di daerah itu-.Jin itu berkata dengan syair berikut :

“Aku bersumpah tidak seorang pun dari golongan manusia yang telah melahirkan Muhammad selain ia (Aminah).

Seorang wanita dari suku Zuhrah yang memiliki sifat-sifat terpuji dan selamat dari kecelaan para suku-suku, bahkan mereka memujinya.

Wanita itu telah melahirkan manusia terbaik yaitu Ahmad.

Orang yang terbaik itu dimuliakan

Serta orangtuanya pun dimuliakan juga”…

Bahkan Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa nasabnya adalah suci (ayah-ayahnya adalah keturunan manusia yang suci),”Saya Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali saya berada diantara yang terbaik dari keduanya. Maka saya lahir dari ayah – ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyyah dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah).Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah” (Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra.) Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2,hal.404 dan juga oleh Imam Ath Thobari dalam tafsirnya juz 11, hal. 76.

Juga sabda Nabi SAW,”Saya adalah Nabi yang tidak berdusta, Saya adalah putra Abdul Mutholib.”(HR.Bukhori no.2709,2719,2772,Shahih Muslim no.1776)

Lihatlah dari hadis-hadis diatas,nampak jelas sekali bahwa tidak mungkin orang tua Nabi adalah orang-orang kafir atau musyrik. Sedangkan Nabi SAW telah membanggakan kedua orang tuanya sebagai nasab yang terbaik.Bagaimana mungkin ada manusia yang tega mengatakan orang tua,bapak atau ibu Nabi saw lagi disiksa di neraka?Sungguh itu sama halnya menyakiti hati Nabi saw.

Demikian juga ucapan Nabi SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di peperangan Uhud ketika beliau SAW melihat seorang kafir membakar seorang muslim,maka Rasulullah SAW bersabda kepada Sa’ad,”Panahlah dia,jaminan keselamatanmu adalah Ayah dan ibuku!’, maka Sa’ad berkata dengan gembira,’Rasulullah SAW mengumpulkan aku dengan nama ayah dan ibunya!’ “(HR Bukhori,Bab. Manaqib Zubair bin Awam no.3442,hadis no.3446, Bab.Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqosh Al-Zuhri.)

Bagaimana mungkin Sa’ad berbahagia disatukan dengan orang tua Rasulullah,jika keduanya orang-orang musyrik??

Maka apa kata dunia? Jika nabinya ummat Islam lahir dari rahim perempuan musyrik? Padahal Isa as. Lahir dari rahim perempuan yang suci!!.Apa kata dunia jika Nabinya ummat islam lahir dari rahim perempuan kafir?Padahal banyak perempuan yang beriman melahirkan anak-anak yang tidak memiliki keistimewaan,sedangkan Rasul keistimewaannya diakui di dunia langit maupun bumi lahir dari perempuan musrik?. Sungguh tidak logis!!

Sungguh harus dipertimbangkan pendapat tentang kemusyrikan orang tua Nabi !

Ahlul Fatrah

Adalah suatu masa dimana terjadi kekosongan nubuwwah dan risalah. Seperti orang-orang jahiliyyah yang belum datang kepada mereka risalah kenabian,maka mereka masuk kategori ahlu fatrah,yang mereka termasuk ahli surga juga. (Prof.DR.Wahbah Zuhaili,tafsir Al Munir,juz 8, hal.42)

Hal itu berdasarkan firman Alloh QS. Al Isro’ 15 yang artinya,”Kami tidaklah mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus (kepada mereka) seorang rasul”

Dari ayat itu, maka orang-orang yang hidup sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, mereka adalah Ahlu fatrah yang tidak diadzab atas perbuatannya. Karena sebagai bentuk keadilan Alloh adalah mengadzab suatu kaum setelah jelas risalah datang kepada mereka namun tidak diindahkannya.

Dan dari ayat itu pula,dapat dipahami bahwa keluarga nabi saw sebelum dirinya diangkat menjadi Nabi dan Rasul,adalah termasuk ahlu fatrah.Dan karena itu mereka tidak diadzab dan tidak digolongkan kepada orang-orang musrik atau kafir.

Bagaimana dengan riwayat bahwa Nabi saw menangis dipusara ibunya?. Dan hadis tersebut dikaitkan sebagai asbabun nuzul ayat 113 dari QS .At Taubah; “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun[kepada Alloh] bagi orang-orang musyrik,walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya),sesudah jelas bagi mereka,bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam”.??

Beberapa ulama’ (salah satunya Ibn Katsir,Mukhtashor li Ali as Shobuni,juz 2,hal.173),menyebutkan sebuah riwayat,bahwa rasulullah saw. Suatu ketika berziarah ke kuburan dan menangis tersedu-sedu.Sayidina Umar bertanya tentang sebab tangis beliau.Beliau menjawab,”Aku menangis di kubur ibuku,Aminah. Aku memohon kepada Alloh kiranya beliau diampuni,tetapi alloh tidak memperkenankan dan turun kepadaku firmanNya (At Taubah 113-114). Aku sedih dan kasihan kepada ibuku, dan itulah yang menjadikan aku menangis”(HR.Ibn Hibbah,Abi Alatim dan Al Hakim melalui Ibn Mas’ud). Riwayat ini dinilai dhoif oleh pakar hadis Adz Dzahabi,karena dalam renteten perawinya terdapat nama Ayyub yang berstatus lemah (Prof.DR.Quraish Shihab,Al Misbah ,jilid 5,hal.735).Dan pakar tafsir lainnya seperti DR.Wahbah Zuhaily mengomentari ulama yang menyatakan hadis tersebut sebagai sebab turunnya ayat 113,QS at Taubah,dengan komentar bahwa itu jauh dari fakta sebab orang tua Rasul hidup di masa fatrah,sehingga tidak tepat hadis tentang tangisan nabi saw dipusara ibunya sebagai sebab turunnya ayat tersebut.[lihat tafsir Al Munir ,juz 6,hal 64]

Dan banyak lagi hadis yang senada dengan itu,namun dengan redaksi yang berbeda,seperti yang diriwayatakan,Ahmad,Muslim, Abu Dawud dari jalur Abu Hurairoh. Dan jika kita terima kesahihan hadis tangisan Nabi diatas kuburan ibunya tersebut,maka ada beberapa hal harus dipertimbangkan untuk membatalkan hadis tersebut sebagai dalil kemusyrikan Ibu nabi SAW,sebagai berikut:

1. 1. Hadis tersebut secara manthuq (tekstual) tidak menyebut kekafiran atau kemusyrikan ibu Nabi secara tegas dan jelas.Sehingga agak ceroboh kalau dengan ketidak jelasan manthuq hadis tersebut langsung menyatakan kemusrikan ibunda Nabi saw.

2. 2. Hadis-hadis tersebut yang menyatakan bahwa kejadian rasulullah menangis di kuburan ibunya di kota Mekkah,menurut ibnu Sa’ad berita itu salah,sebab makam ibu Nabi itu bukan di Mekkah tapi di ‘Abwa (suatu wilayah yang masih masuk kota Madinah). (Al Wafa’,ibn Al Jauzi,terjemahan hal.96, Lihat juga Zaadul Ma’ad jilid I,hal.36 terkait dalil tempat wafatnya ibunda Nabi saw).

3. 3. Hadis-hadis tersebut termasuk hadis ‘Inna Abiy wa abaaka finnar (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR.Muslim) dibatalkan (mansukh) oleh QS.Al Isra’ 15.”Dan Kami tidak mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus(kepada mereka) seorang rasul”(rujuklah pada Masaalikul Hunafa Fii Hayaati Abawayyil Musthofa,karya Imam As Suyuthi,hal.68).Alasan pembatalannya adalah mereka ayah dan ibunda Nabi saw hidup sebelum ada risalah nubuwwah,karena itu mereka termasuk ahlu fatrah yang terbebas dari syari’at Rasululloh saw.

4. 4. Khusus hadis riwayat Muslim,Inna Abiy wa Abaaka fin Nar/Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka,adalah bahwa yang dimaksud Abi di hadis tersebut adalah paman.Karena kebiasaan Alloh didalam al Quran,sering ketika ada kata-kata Abun,maka yang dimaksud adalah bukan orang tua kandung.Alloh berfirman dalam QS.Al Baqoroh 133,yang artinya ; “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub mau meninggal,ketika Ia berkata kepada anak-anaknya;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab;’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu,Ibrahim,Isma’il dan Ishaq,yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” Padahal Ayah Ya’qub adalah Ishaq bukan Ibrahim atau Ismail.Namun Alloh menyebutkan Ibrahim dan Ismail sebagai Aaba’(ayah-ayah) dari Ya’qub,maksudnya adalah kakek atau paman dari Ya’qub.Dan untuk penyebutan orang tua kandung,biasanya Al quran menggunakan kata Waalid.Sebagaimana Alloh berfirman; “Robbanagh Fir Li Wa Li Waliidayya…/Ya Tuhan Kami Ampunilah aku dan ibu bapakku…”.QS.Ibrahim 41

5. 5. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan nash hadis lain seperti yang kami tulis diatas,bahwa nabi lahir dari nasab yang suci.

6. 6. Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan orang tua Nabi saw di neraka, mereka di laknat oleh Allah swt, sebagaimana FirmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tidak ada hal yang lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya atau orang tuanya berada di neraka, dan Nabi saw bersabda : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ Fii Hayaati Abawayyil Musthofa, hal. 75 lil Imam Suyuthi)

Demikian pendapat ulama bahwa orang tua Nabi SAW bukan orang-orang musyrik, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dan menjadi ahli fatrah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka sebagai menyembah berhala. Diantara Ulama yang berpendapat bahwa orang tua Nabi bukan musyrik menurut Al Habib Munzhir bin Fuad Al Musawa adalah :
Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam At thabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kamis, 17 Maret 2011

AL-ASMA'UL HUSNAA (NAMA-NAMA INDAH DAN AGUNG)


Sebenarnya Nama Indah Tuhan Yang Maha Esa amat banyak. Jumlahnya tidak terbatas kepada bilangan 99 saja. Ada ratusan, bahkan ribuan, atau mungkin total jenderalnya tak terhitung. Namun sifat segenap Nama Ilahi terkandung di dalam Kesembilan-Puluh-Sembilan Nama Allah yang Indah, atau Al-Asma ul-Husna. Kita mewarisi yang ke-99 tersebut melalui sebuah hadis Nabi Muhammad saw. yang membeberkannya secara khusus:
"Bismillahir rohmaanir rohiim. Tiada tuhan selain Dia: Yang Maha Pemurah; Yang Maha Penyayang; Yang Merajai; Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati janji-Nya; Yang menaungi Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa; Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya; Yang Maha Perkasa; Yang patut Dipuja karena keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Maha Pencipta; Yang menjadikan segala sesuatu; Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Menutupi kesalahan Hamba-Hamba-Nya; Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya; Yang Memberi Rezeki; Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk; Yang Maha Mengetahui; Yang Maha Kuasa Menyempitkan; Yang Maha Kuasa Melapangkan; Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya; Yang Maha Mendengar; Yang Maha Melihat; Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu; Yang Maha Adil; Yang Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik; Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu; Yang tetap dapat menahan amarah; Yang Maha Besar; Yang Maha Pengampun; Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik; Yang Maha Tinggi Martabat-Nya; Yang Maha Agung; Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya; Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk; Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat; Yang Maha Mulia; Yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelum-Nya; Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu; Yang dapat mengabulkan do'a Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Bijaksana; Yang Mencintai dan Mengasihi; Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat; Yang menyaksikan segala sesuatu; Yang Hak; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran; Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuat lagi Perkasa; Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya; Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya; Yang Patut dipuja dan dipuji; dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Yang Maha Penghitung dan Pemelihara segala sesuatu; Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada; Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap; Yang Maha Kuasa Menghidupkan apapun yang sudah mati; Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup; Yang Maha Tetap Hidup; Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya; Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki; Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan; Yang Maha Tunggal; Yang Maha Esa; Yang menjadi tujuan segala Makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka; Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki; Yang sangat berkuasa, Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa; Yang Maha Kuasa Mendahulukan; Yang Maha Kuasa Mengakhirkan; Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada; Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir); Yang lahir; Yang batin; Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk; Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi; Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan; Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa; Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa; Yang Maha Memberi Maaf; Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang; Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki; Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan serta Kemurahan; Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya; Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu; Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun; Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Yang Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya; Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu; Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan; Yang dapat memberikan manfaat; Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu; Yang memberi petunjuk; Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapapun; Yang Maha Kekal Wujud-Nya; Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada; Yang Maha Pandai dan Bijaksana; Yang Maha Sabar. Subhana-llah."
Sekarang marilah kita meninjau Nama di atas secara lebih cermat. Menurut ajaran Sufi, pada ketika Yang Hak memutuskan untuk menciptakan alam semesta yang bersifat lahir dan kasatmata, maka Ia memulai dengan menunjukkan secara terpisah-pisah Sifat-Nya yang bertalian dengan Nama-Nama-Nya tersebut, ibarat berkas cahaya berpisah ke dalam sederetan bianglala bila menimpa kaca prisma. Saling interaksi warna bianglala itu menghasilkan berbagai-bagai rona baru, dan demikianlah proses penciptaan segala sesuatu—tiap makhluk atau bentuk merupakan titik fokus khusus, tempat berbagai nama dan Sifat Ilahi berkumpul-kumpul dan menyebabkan runtunan peristiwa yang menyebar sebagai akibat kodrati tindih-bertindihnya. Mungkin penjelasan proses ini oleh David Bohm, seorang ahli fisika ternama, dapat membuat rangkaian kejadian itu lebih mudah terpaham sebagai proses "penarikan dan penguraian simpul-simpul limpah-ruah yang menjejal memenuhi ruang dan waktu alam semesta."
Manusia merupakan makhluk yang paling inklusif. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang serba komprehensif, yaitu ruang lingkupnya luas dan lengkap, sehingga ia mampu menjelmakan ke-99 Nama Ilahi, bukan hanya satu-dua. Tiap orang yang berhasil mewujudkan ke-99 Sifat Ilahi tersebut akan menjadi Kalifatullah di bumi.
Seseorang dapat juga mengkhususkan salah satu di antara nama Ilahi. Tiap kali ia menyebutnya dalam berzikir, Sifat nama itu akan lahir di dalam dirinya, karena pada titik itu Nama Ilahi sedang dikerahkan, dan Kekuatan-Nya terpusat di tempat itu juga.
Oleh karena itu, seseorang yang mengharapkan Kemurahan Tuhan akan menyebut berulang kali Nama Ar-Rahim, sedangkan dia yang mengharapkan Keadilan-Nya akan menyebut Nama Al-Adlu. Dengan demikian, Sifat Kerahiman atau Keadilan-Nya akan muncul di lokasi itu, tempat pezikir membaca berulang kali Nama yang bersangkuan. Itu bukan semacam magi atau sejenis itu, melainkan suatu proses penciptaan yang dikarenakan oleh sifat alam semesta. Jagat raya tidak diciptakan dalam sesaat pada masa lampau seperti yang disangka oleh para penganut mazhab "jagat mesin jam," yang mengangankan Tuhan sebagai Tukang Arloji Yang Maha Besar. Sama sekali tidak demikian! Alam berubah tiap saat, dan pada saat pengubahan itu pula, seluruh bentuk sebelumnya hilang untuk selama-lamanya. Jadi, alam semesta berubah-ubah terus-menerus, dan pada tiap ketik mendatang diperbaharui—menjadi lain daripada alam sejenak sebelumnya serta lain daripada alam yang akan datang pada saat berikutnya. Proses itu tidak jauh berbeda dengan keadaan pita film yang merupakan sederetan gambar foto yang berbeda-beda, meskipun amat kecil perbedaan antara salah satu gambar dengan foto di kiri-kanannya
(Bagi filsuf-filsuf Barat selama ini sulit sekali memecahkan soal kemungkinan Ada yang stabil, abadi, dan utuh dapat berubah menjelma sebagai Jadi yang terus-menerus beralih sifat. Para Sufi memecahkannya dengan melihat bahwa wujud itu bersusun menurut peringkat kerumitan atau diferensiasinya. Dengan demikian, perbedaan yang kecil di dekat Asal-Usul menjadi amat besar setelah sampai di alam kasatmata, ibarat setitik debu pada transparansi atau film kelihatan besar setelah diproyeksikan kepada layar dalam bentuk cahaya. Perlu kita catat di sini bahwa dalam hubungan ini yang dimaksudkan dengan "cahaya" itu bukanlah aliran foton elektromagnetik, melainkan "nur akal budi." Hal itu merupakan latar belakang peribahasa Buddhis: "Perbedaan serambut memisahkan langit dari bumi.")
Hal yang demikian berarti bahwa tiap saat "Ada" lahir, dan hampir seketika itu Sang Ada hilang lagi—seperti gerakan air laut yang turun-naik, tercipta dan langsung musnah, timbul dan langsung tenggelam ke dalam samudera Ada yang tidak berhak. Demikianlah proses penjelmaan Kejadian terus-menerus. Oleh sebab itu, tidak benar bahwa Tuhan hanya menciptakan alam semesta pada suatu ketika pada awal segala abad. Tuhan senantiasa terlibat dalam kesibukan-Nya Pribadi sebagai Pencipta sekali gus Pemusnah, dan memang itu yang dimaksudkan oleh Syekh Akbar Ibn Arabi dengan istilahnya "penciptaan terus-menerus."
Maka dari itu, bilamana seseorang mengerahkan salah satu Nama Ilahi dalam bentuk dzikir, maka sifat yang terkandung di dalam Nama yang dipilihnya akan lahir di tempat itu juga, dan akibat—suatu tindakan nyata—dari Sifat tersebut akan menyusul.
Beberapa di antara nama Ilahi itu bersifat saling melengkapi, seperti Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Maha Penghormat dan Yang Maha Penista. Di antara Nama lainnya terdapat gugus atau urutan, seperti urutan Yang Maha Pencipta (No. 11)—Yang Maha Pencetus (58)—Yang Maha Pembuat (12)—Yang Maha Pemrakarsa (95)—Yang Maha Pembentuk (13)—Yang Maha Pembubuh (64)—Yang Maha Pemberi Hidup (60)—Yang Maha Pelindung (38)—Yang Maha Menopang (39)—Yang Maha Pemberi Rezeki (17)—Yang Maha Pembunuh (61)—Yang Maha Pemusnah (15). Hakiki seluruh proses kejadian alami terkandung di dalam urutan ini.
Segala isi alam semesta dapat dilihat sebagai proses penciptaan yang disusul oleh eksistensi selama periode tertentu dan kemudian berakhir dengan pemusnahannya. Bila Tuhan ber-Kehendak menciptakan sesuatu, maka mula-mula Ia mencetuskannya. Kemudian Dia merencanakan atau membentuknya ibarat seorang penemu ciptaan baru yang merancangnya dalam bentuk skema. Setelah dirancang, Ciptaan baru-Nya langsung dijadikan-Nya di alam kasatmata, dan kemudian, pada tiap tahap kejadiannya, produk baru itu dibentuk-Nya secara aktif sampai berjasad nyata. Jika produk baru itu bersifat Makhluk hidup, maka Ia menghidupkannya, melindunginya, memberi nafkah kepadanya seumur hidup, dan membantunya jika berkembang biak. Karena tiap awal juga mengandung akhirnya sendiri, maka Tuhan membunuh Makhluk-Nya kalau sudah sampai ajalnya. Di antara nama-nama Ilahi yang berjumlah 99 tersebut, pengamat dapat menemukan banyak gugus lain sejenis
Bila Nama-Nama Ilahi mau disusun secara hierarkis, urutan pertama harus jatuh pada Yang Maha Hidup, karena Hayat Abadi Tuhan mendahului segenap Sifat lain-Nya. Urutan Nama Yang Maha Mengetahui hanya kalah dengan Yang Maha Hidup, karena Pengetahuan Tuhan meliputi segala sesuatu, dan Nama itu juga bertalian erat dengan Nama-Nama seperti Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu, dan Yang Maha Mengawasi segala sesuatu.
Di bawah ini Ke-99 Nama Tuhan Yang Indah dijelaskan secara lebih terperinci. Pada hakikatnya, urutan Nama-Nya harus dimulai dengan Nama Allah, Nama serba komprehensif yang merupakan asal-usul Nama-Nama lain-Nya. Dengan demikian, jumlahnya meningkat menjadi 100.
(Catatan: Oleh karena tidak digunakan tanda-tanda diakritik dalam transliterasi bahasa Arab, maka ejaan Nama dengan huruf Romawi disesuaikan dengan kebiasaan yang cukup lazim di Indonesia. Bila satu Nama dapat diartikan secara multimakna, maka disertakan di sini makna ganda lainnya.)

AL-ASMA'UL HUSNAA (NAMA-NAMA INDAH DAN AGUNG)
  1. ALLAH - Nama Ilahi yang serba komprehensif. Nama panggilan Ketuhanan yang merupakan asal-usul segenap Nama lain-Nya.
  2. AR-RAHMAN - Yang Maha Pemurah. Ia yang melimpahkan Kemurahannya kepada segenap Makhluk-Nya.
  3. AR-RAHIEM - Yang Maha Penyayang. Ia melimpahkan Kemurahannya kepada semua orang yang beriman.
  4. AL-MALIK - Yang Maha Kuasa dan Merajai. Ia Raja seluruh alam semesta.
  5. AL-QUDDUS - Yang Maha Suci dari Sifat Kekurangan. Atau Yang Maha Kudus.
  6. AS-SALAAM - Yang Maha Sejahtera (memberi keselamatan). Yang Maha Suci dari Sifat Buruk. "Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal."
  7. AL-MUKMIN - Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati Janji-Nya; Yang Memberi keamanan kepada Makhluk-Nya. Atau Maha Pelindung Iman, atau Maha Pelindung Mukminin. Dia mengaktifkan Nama ini di dalam diri mukminin sehingga terpelihara imannya.
  8. AL-MUHAIMIN - Yang memperhatikan, menjaga, serta menaungi Hamba-Hamba-Nya dalam segala keadaan. Atau Yang Maha Pelindung, khususnya Pelindung iman.
  9. AL-AZIZ - Yang Maha Kuat dan Mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Atau Yang Maha Mulia, atau pun Yang Maha Jaya.
  10. AL-JABBAR - Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya atas semua Makhluk-Nya; Yang Maha Perkasa. Yang Kehendak-Nya tidak terkalahkan atau diingkari.
  11. AL-MUTAKABBIR - Yang patut Dipuja karena Keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Memiliki Kebesaran. Atau Yang Maha Bangga, atau Yang Maha Agung. Hanya Tuhan, Yang Berkuasa atas segala Hidup, berhak berbangga.
  12. AL-KHALIK - Yang Maha Pencipta. Yang Maha Kuasa Menciptakan segala sesuatu, seluruh alam semesta, dan segala Makhluk di dalamnya.
  13. AL-BARI' - Yang menjadikan segala sesuatu. Atau Yang Maha Pengembang. Tuhan merencanakan Makhluk-Nya dan menuntunnya melalui tahap-tahap dalam proses perkembangannya.
  14. AL-MUSHAWWIR - Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu. Secara aktif, Tuhan mencetak segala sesuatu dan membentuknya seraya Ciptaan-Nya menempuh segala tahap dalam proses perkembangannya.
  15. AL-GHAFFAR - Yang Maha Kuasa Menutupi segala kesalahan Hamba-Hamba-Nya dengan mengampuni dosa-dosa mereka. Melalui Kuasa Nama ini, Tuhan mengampuni orang yang berdosa.
  16. AL-QOHHAR - Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang dapat Memaksakan segala yang menjadi Kehendak-Nya. Atau Yang Maha Penekan. Tuhan menaklukan dan mengakhiri segala sesuatu. 
  17. AL-WAHHAB - Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya. Tuhan memberi Kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  18. AR-ROZZAQ - Yang Memberi Rezeki. Tuhan adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
  19. AL-FATTAH - Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk. Tuhan jualah yang membuka jalan ke arah segala pengembangan.
  20. AL-'ALIEM - Yang Maha Mengetahui. Atau Yang Serba Mengetahui. Tiada suatu pun yang luput dari Pengetahuan-Nya.
  21. AL-QOBIDH - Yang Maha Kuasa Menyempitkan. Dia yang menyempitkan atau menyusutkan sesuatu untuk mempersulit urusan Makhluk-Nya.
  22. AL-BASITH - Yang Maha Kuasa Melapangkan. Dia yang mempermudah segala urusan Makhluk-Nya atau sebaliknya membiarkan mereka berkembang.
  23. AL-KHOFIDH - Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  24. AR-ROFI' - Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  25. AL-MU'IZZ - Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
  26. AL-MUDZILL - Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya. Yang mampu meninggikan martabat juga mampu menurunkannya.
  27. AS-SAMIE' - Yang Maha Mendengar. Tiada suatu pun yang luput dari Pendengaran-Nya.
  28. AL-BASHIER - Yang Maha Melihat. Tiada suatu pun yang luput dari Pengamatan-Nya.
  29. AL-HAKAM - Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan adalah Hakim seluruh umat manusia, terutama pada Hari Kiamat.
  30. AL-'ADLU - Yang Maha Adil. Tuhan adil dalam Keputusan-Nya dan membagikan hukuman dan pahala dengan segala cermat-Nya, sehingga di seluruh alam semesta, termasuk Keputusan-Nya, tidak terdapat ketimpangan atau deviasi yang kecil sekali pun.
  31. AL-LATHIEF - Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik. Yang bersifat santun dan lembut kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia yang Maha Pemurah, mengagumkan, dan terlalu halus untuk dilihat dengan mata kepala. ("Tuhan Allah sulit ditebak, tetapi Ia tidak jahat." Albert Einstein.
  32. AL-KHOBIER - Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu. Karena Ia Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, niscaya Tuhan memantau segala kejadian.
  33. AL-HALIEM - Yang tetap dapat menahan amarah. Atau Yang Maha Lemah Lembut. Atau Yang Maha Penyabar. Tuhan baru tega menghukum bila digusarkan terus-menerus.
  34. AL-'ADHIEM - Yang Maha Besar; Yang Maha Luhur; Yang Maha Agung. Ia Raja alam semesta dan Maha Besar dari sudut martabat.
  35. AL-GHAFUR - Yang Maha Pengampun. Dia memaafkan segala dosa yang disesali pelakunya.
  36. ASY-SYAKUR - Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik.. Tuhan menerima syukur mereka yang bersyukur kepada-Nya. Sampai tingkat tertentu, Ia sekali gus pengucap syukur serta perbuatan mengucapkan syukur.
  37. AL-'ALIY - Yang Maha Tinggi Martabat-Nya. Ia Tuhan Yang bertakhta jauh-jauh di atas.
  38. AL-KABIER - Yang Maha Besar. Ia teramat Besar dari sudut ukuran ruang dan waktu.
  39. AL-HAFIEDZ - Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya. Ia melindungi segala sesuatu, terutama Sabda-Nya (Alquran), sampai tiba ajalnya, dengan pengertian bahwa Alquran akan bertahan sampai akhir segala zaman.
  40. AL-MUQIET - Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk-Makhluk-Nya., seperti makanan, minuman dan sebagainya. Atau Yang Maha Pemelihara. Di antara ketiga fase hidup (Kreasi, Hidup, dan Pemusnahan), Nama ini bertalian dengan fase kedua. 
  41. AL-HASIEB - Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat. Juga berarti Juru Hitung, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencipta berdasarkan perhitungan yang amat sangat halus (oleh Al-Muhshi).
  42. AL-JALIEL - Yang memiliki segala Sifat kebenaran dan kebesaran. Juga menyangkut segi Ilahi sebagai Yang Maha Pemurka.
  43. AL-KARIEM - Yang Maha Mulia, yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelumnya. Karena Ia jua yang memberikan kita segala milik yang kita punyai, maka Kemurahan-Nya tak terhingga.
  44. AR-RAQIEB - Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu, dan tiada suatu pun yang luput dari Pegawasan-Nya. Ia memantau, menyelia, dan mengontrol. (Banyak di antara penemuan teknologi mutakhir menjelmakan Nama ini.)
  45. AL-MUJIEB - Yang dapat mengabulkan doa Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Pengabul Doa.
  46. AL-WASI' - Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Yang Maha Besar dari sudut keluasan atau permuaian.
  47. AL-HAKIEM - Yang Maha Bijaksana. Ia Asal-Usul, Pemilik, dan Pembagi segala sifat kearifan.
  48. AL-WADUD - Yang Mencintai dan Mengasihi. Tuhan adalah Cinta Kasih dan Pembagi-nya—Pengasih, Kasih, dan Kekasih.
  49. AL-MAJIED - Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia teramat Ajaib dan patut dipuja, dan oleh karena itu paling patut diagungkan.
  50. AL-BA'ITS - Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat. Tuhan membangkitkan ahli kubur pada Hari Kiamat. Ia juga menciptakan hidup baru dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang hanya dikira mati.
  51. ASY-SYAHIED - Yang menyaksikan segala sesuatu. Karena Ia Yang Serba Sadar dan Yang Maha Pengawas, maka Tuhan adalah Saksi akan segala kejadian sejagat raya, termasuk perbuatan kita yang kecil sekali pun.
  52. AL-HAQ - Yang Haq; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran. Ia inti terdalam seluruh alam dan sama sekali luput dari segala sifat dusta dan kesilapan.
  53. AL-WAKIEL - Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya. Melalui Nama ini kita percaya kepada Tuhan, dan melalui Nama ini Ia memberi rezeki asalkan kita telah berusaha sendiri (memenuhi kewajiban dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya).
  54. AL-QOWIYU - Yang Maha Kuat lagi Perkasa. AtauYang Tak Terbatas.
  55. AL-MATIEN - Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya. Ia Yang Bertahan, yang Maha Melawan, atau Yang Maha Pemberani. (Nama ini terwujud dalam bahan adikeras sebangsa intan.)
  56. AL-WALIYU - Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Sahabat lagi Pelindung. Tuhan merupakan Sahabat setia terhadap segenap Sahabat-Nya
  57. AL-HAMIED - Yang Patut dipuja dan dipuji. Segala puja dan puji adalah Milik-Nya jua.
  58. AL-MUHSHI - Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia menghitung dan memelihara segala ada, baik yang besar maupun yang kecil sekali pun, hingga tiada suatu pun yang luput dari Perhitungan dan Pemeliharaan-Nya. Atau Yang Maha Penghitung atau pun Yang Maha Perancang. Ia sumber ilmu matematika, dan oleh sebab itu sumber segala ilmu pengetahuan alam (lihat juga Al-Hasieb). Menurut Leopold Kronecker, seorang ahli matematika tersohor, "Tuhan hanya menciptakan nomor; selain itu, segala sesuatu adalah ciptaan manusia." Atau, yang lebih tepat, di alam semesta ini Tuhan mewujudkan ilmu matematika-Nya yang tinggi serta Kalkulasi dan Proporsi Ilahi, sehingga tugas manusia ialah hanya menemukan dan meniru Kemuliaan-Nya.
  59. AL-MUBDI'U - Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada. Segala apa yang diambil oleh Tuhan dapat dikembalikan-Nya.
  60. AL-MU'IED - Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap. Melalui Kekuatan Nama ini, semua doa kita untuk arwah tercinta yang telah tiada akan dikabulkan oleh-Nya pada Hari Kebangkitan.
  61. AL-MUHYI - Yang Maha Kuasa Menghidupkan segala sesuatu yang sudah mati. Ia memberi hayat kepada segala Makhluk hidup.
  62. AL-MUMIET - Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup. Atau Yang Maha Pencipta Maut, atau Yang Maha Pemusnah. Segala sesuatu yang hidup akhirnya ditakdirkan mati oleh-Nya.
  63. AL-HAYYU - Yang Maha Tetap Hidup. Hanya Tuhan jualah yang mempunyai Hidup abadi, karena Ia tidak lahir dan tidak mati pula.
  64. AL-QOYYUM - Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya. Ia untuk selama-lamanya berdiri tegak, siaga, dan awas.
  65. AL-WAAJID - Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki. Ia memberi bentuk badani kepada segala sesuatu yang terdapat di dunia ini.
  66. AL-MAAJID - Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan. Satu-satunya Ada yang patut diagungkan.
  67. AL-WAAHID - Yang Maha Tunggal. Atau Yang Maha Tersendiri dalam bentuk dan jenis. Atau Yang Maha Pemersatu. Segala kelipat-gandaan tersatu di dalam Diri-Nya.
  68. AL-AHAD - Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, tanpa salinan, (maksudnya tidak ditinjau dari sudut urutan angka matematika, tetapi sebagai "Ia Yang tidak diserupai oleh sesama satu pun.")
  69. ASH-SHOMAD - Yang menjadi tujuan segala makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Atau Yang Maha Abadi. Segenap Makhluk menyeru-Nya dalam kekurangan, dan Dia, yang bebas dari segala kebutuhan, menyediakan kebutuhan mereka.
  70. AL-QODIR - Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki. Tuhan Maha Kuasa. (Sezarah dari segala Sifat Nama ini terwujud pada laut lepas, ilmu Ilahi, dan bidang keuangan.)
  71. AL-MUQTADIR - Yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa.
  72. AL-MUQODDIM - Yang Maha Kuasa Mendahulukan. Atau Yang Maha Pemercepat. Bila dikehendaki-Nya, Tuhan sanggup mempercepat segala urusan.
  73. AL-MU'AKHKHIR - Yang Maha Kuasa Mengakhirkan. Atau Yang Maha Pemerlambat. Sebaliknya, Ia sanggup memperlambat segala urusan.
  74. AL-AWWAL - Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada.
  75. AL-AAKHIR - Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir).
  76. ADH-DHAHIR - Yang Lahir - Yang dapat dilihat kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di luar.
  77. AL-BATHIN - Yang Batin - Yang tidak dapat dilihat Zat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dalam.
  78. AL-WAALI - Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk-Nya. Direktur seluruh alam.
  79. AL-MUTA'AAL - Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi dan tidak dapat diatasi atau dilampaui oleh siapa atau apa pun.
  80. AL-BARRU - Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan. Sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya.
  81. AL-TAUWAAB - Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa. Setelah menerima tobatnya, Ia mengampuni mereka. 
  82. AL-MUNTAQIM - Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa. Tuhan tidak meridai perbuatan jahat, dan lambat laun mesti membalas dendam-Nya.
  83. AL-AFUWWU - Yang Maha Memberi Maaf, asalkan pendosa bertobat.
  84. AR-RO'UF - Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang. Belas Kasih ialah Tanda-Nya.
  85. MALIKUL-MULKI - Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan Kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki. Atau Pemilik Kerajaan. Atau Pemilik Abadi segala Kedaulatan. Atau pun Pemilik Kerajaan Allah.
  86. DZUL JALAALI wal IKROM - Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, serta Kemurahan. Tuhan Segala Keagungan dan Kemurahan. Dia Lebih Besar, Penuh Rahmah, dan Maha Pemurah.
  87. AL-MUQSITHU - Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya. Ilmu ekonomi juga berasal dari Nama ini. Ekonomi Ilahi bersifat adil dan cermat.
  88. AL-JAAMI'U - Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu. Tuhan mempersatukan segala sesuatu (yang beraneka segi) di dalam Diri-Nya.
  89. AL-GHONIYYU - Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun. Yang Maha Mandiri. Sedemikian agung Kekayaan-Nya sehingga besarnya seluruh alam semesta ibarat kepala peniti saja.
  90. AL-MUGHNI - Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya. Ia melimpahkannya kepada siapa saja menurut Kehendak-Nya.
  91. AL-MAANI'U - Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu. Pada akhirnya, hanya Tuhan jualah yang mampu menahan sesuatu sehingga batal.
  92. ADH-DHAARRU - Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan. Hanya Tuhan jualah yang mampu mengganggu atau menyusahkan Makhluk-Nya.
  93. ANN-NAAFI'U - Yang dapat memberikan manfaat. Atau Yang Maha Menguntungkan. Hanya Tuhan jualah yang mampu menolong atau menyembuhkan Makhluk-Nya.
  94. AN-NURU - Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu. "Allah yang menerangi langit dan bumi." (Q24.35) Makhluk pertama ialah Nur Ruh Muhammad, yang muncul dari Nur Ilahi Yang Purba. Itu berarti bahwa Rasul adalah Makhluk yang terdekat pada Tuhan, dilihat dari sudut ontologis (hakikat hidup), dan tidak hanya dari sudut temporal (berkenaan dengan waktu).
  95. AL-HAADI - Yang memberi petunjuk. Tuhan dapat menuntun kita sepanjang jalan yang lurus (atau benar).
  96. AL-BADIE'U - Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapa pun. Atau Yang Tiada Bertara. Ia yang menimbulkan segala sesuatu.
  97. AL-BAQI - Yang Maha Kekal Wujud-Nya. Atau Maha Selamat. Atau Yang Maha Tetap. Meskipun segala sesuatu akan habis, tetapi Ia takkan berkesudahan.
  98. AL-WARITSU - Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada. Atau Yang Maha Waris. Pada saat segala sesuatu kembali kepada-Nya, Ia akan berada di tempat untuk menerimanya.
  99. AR-ROSYIEDU - Yang Maha Pandai dan Bijaksana. Atau Yang Maha Penyuluh. Atau Yang Maha Pemandu yang merintis Jalan yang Benar. Nama ini dikaruniakan kepada segenap nabi, rasul, wali Allah, ahli hikmah, dan syekh yang patut dipercaya.
  100. ASH-SHOBURU - Yang Maha Sabar. Tuhan adalah sumber segala Kesabaran. Banyak Nama-Nya, namun Dia telah ridha mengungkapkan yang di atas kepada Hamba-Hamba-Nya sebagai Nama-Nya yang paling berguna baginya.

Senin, 14 Maret 2011

Pluralisme, Paham yang Terbantahkan


Islam, sebagai agama yang diridhai oleh Allah, tidak henti-hentinya menghadapi berbagai macam tantangan. Tantangan yang cukup serius adalah tantangan di bidang pemikiran keagamaan, baik internal maupun eksternal.
Masyarakat kita sangat kental dengan fanatisme, taklid buta, bid’ah, dan khurafat (kesyirikan) yang telah menjadi tantangan internal bagi Islam. Namun, masuknya pluralisme [1] ke dalam wacana pemikiran Islam telah menjadi salah satu tantangan eksternal yang sangat berbahaya karena berusaha meruntuhkan konstruksi tauhid dalam Islam.
Misi Tauhid = Misi Para Nabi
Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan menuju tauhid sebagaimana Dia mengutus para nabi dan rasul sebelum beliau. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah segala bentuk penyembahan kepada thaghut.” (An Nahl: 36).
Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa tujuan diutusnya setiap rasul adalah untuk mengeluarkan manusia dari kesyrikan menuju tauhid, dari penyembahan kepada makhuk menuju penyembahan hanya kepada Allah Ta’ala. Tujuan inilah yang menjadi titik temu antara ajaran agama yang dibawa oleh setiap nabi, dari yang pertama hingga nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah mengutus seorang rasul untuk setiap umat, di setiap generasi dan golongan, mereka semua menyeru (umatnya) untuk beribadah kepada Allah dan melarang untuk beribadah kepada selain-Nya. Maka Allah senantiasa mengutus para rasul-Nya untuk mendakwahkan hal tersebut sejak munculnya kesyirikan pertama kali pada anak Adam, yaitu pada kaum nabi Nuh. Beliaulah rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi hingga Allah mengakhiri para rasul tersebut dengan pengutusan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dakwahnya diperuntukkan bagi jin dan manusia, baik yang berada di Timur dan di Barat sebagaimana disinyalir Allah Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (QS. Al Anbiya: 25)”.[2]
Oleh karena itu, dapat kita jumpai Al Quran sering memberitakan seruan utama para rasul kepada kaumnya yang berisi ajakan untuk menauhidkan Allah dan menjauhi lawannya, yaitu kesyirikan.[3]
Konsepsi Keimanan dalam Islam
Umumnya, setelah dakwah tauhid disampaikan kepada mereka, umat-umat dari setiap nabi meninggalkan atau menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh para nabi. Mereka mengganti tauhid yang diajarkan oleh para nabi tersebut dengan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka menjadikan nabi-nabi tersebut, yang telah mengajarkan tauhid kepada mereka, sebagai sembahan di samping Allah Ta’ala. Mereka telah meninggalkan konsepsi tauhid yang merupakan konsepsi keimanan seluruh nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala. Jadilah mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah Ta’ala (musyrikin). Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara Islam dengan agama selain Islam.
Diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk meluruskan penyimpangan tauhid tersebut. Beliau diutus untuk menegakkan konsepsi tauhid para nabi dan itu ditegaskan secara gamblang dalam surat Al Ikhlas (yang artinya), “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Zat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlas: 1-4).
Inilah konsepsi tauhid dalam Islam dan merupakan pondasi dasar keimanan seorang muslim. Sangat berbeda dengan konsepsi keimanan Yahudi dan Nasrani. Meskipun kita sama-sama meyakini bahwa Allah adalah sembahan kita, adanya hari berbangkit, yang di sana kita akan bertanggungjawab atas perbuatan kita di hadapan Allah Ta’ala. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara kita dengan mereka. Allah telah memberitakan perbedaan yang mendasar tersebut.
Allah Ta’ala befirman (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah.” (QS. At Taubah: 30).
Ayat ini memberitakan bahwa keimanan mereka sangatlah berbeda dengan apa yang difirmankan Allah dalam surat Al Ikhlas di atas.
Mereka beriman kepada Allah, namun keimanan mereka kepada Allah dicampurkan dengan kesyirikan. Allah telah menyatakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS. Yusuf: 106).
Betul, mereka meyakini eksistensi Allah dan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan penguasa di alam semesta. Namun, mereka memiliki sembahan selain daripada Allah Ta’ala. Dengan demikian, keimanan mereka kepada Allah adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan, sehingga keimanan mereka pun adalah keimanan yang batil, keimanan yang rusak, karena keimanan tersebut bukanlah keimanan yang murni mentauhidkan Allah ta’ala.
Konsepsi tauhid inilah yang telah membedakan Islam dengan agama selain Islam. Konsepsi inilah yang membuat Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhai oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali ‘Imran: 19).
Klaim yang Terbantahkan
Sudah jelas bahwa terdapat perbedaan berarti antara Islam dengan agama-agama selainnya. Oleh karenanya, sungguh aneh masih saja ada kalangan yang hendak menyamakan antara Islam dengan agama selainnya, terutama dengan apa yang mereka sebut sebagai agama-agama samawi (langit) [4]. Sebagian pengusung paham ini justru berani mengklaim bahwa agama yang membawa misi tauhid adalah Yahudi, Nasrani, dan Islam. Padahal, berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat menilai bahwa pernyataan tersebut sangat jelas salahnya. Bahkan, klaim bahwa Yahudi dan Nasrani merupakan agama yang membawa misi tauhid adalah klaim yang sangat tidak tepat, mengingat keduanya justru tidak menegakkan ajaran tauhid, namun menegakkan lawannya, yaitu kesyirikan.
Para pengusung paham ini sering mencomot dalil-dalil dalam Al Quran kemudian melakukan “malpraktik penafsiran” [5] untuk mendukung paham mereka sehingga umat Islam terkelabui. Salah satu dalil [6], tepatnya dalih, yang sering diangkat untuk membenarkan klaim mereka bahwa semua agama sama adalah firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 62).
Berdasarkan ayat ini, kaum pluralis menyimpulkan bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, melakukan amal kebaikan, maka mereka akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan kata lain, keimanan kepada Allah, hari akhir dan moralitas yang baik adalah prinsip dasar bagi benarnya keberagamaan seseorang. Oleh sebab itu, meskipun seseorang secara formal tidak memeluk dan menjalankan syari’at Islam, namun bila ia mempunyai tiga prinsip dasar tersebut maka ia akan mendapatkan keselamatan.[7]
Kesimpulan tersebut tidak tepat berdasarkan alasan berikut:
Pertama: Ibnu Katsir rahimahullah telah membawa riwayat dari As Suddi. Beliau menyatakan bahwa ayat ini terkait dengan para sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu. Dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa para sahabatnya melakukan shalat, berpuasa, beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersaksi bahwa beliau akan diutus sebagai seorang Nabi. Ketika Salman selesai memuji mereka, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Salman, mereka adalah ahli neraka.” Hal itu terasa berat di hati Salman. Lalu Allah menurunkan ayat tersebut. As Suddi kembali melanjutkan bahwa dengan demikian keimanan Yahudi (dalam ayat tersebut) adalah keimanan orang yang berpegang kepada Taurat dan ajaran Musa ‘alaihissalam sampai datangnya ‘Isa ‘alaihissalam. Ketika ‘Isa datang, siapa yang berpegang kepada Taurat dan ajaran Musa, tidak meninggalkannya dan tidak mengikuti ‘Isa, maka dia adalah orang yang celaka. Dan keimanan Nasrani (dalam ayat tersebut) adalah keimanan orang yang berpegang kepada Injil dan syariat-syariat ‘Isa, maka dia menjadi seorang yang beriman dan diterima – imannya – sampai datangnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, siapa yang tidak mengikuti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mereka, dan meninggalkan ajaran ‘Isa dan Injil dia menjadi orang yang celaka.[8]
Ayat ini tidaklah bertolak belakang dengan firman-Nya dalam surat Ali ‘Imran ayat 19. Ibnu Katsir menandaskan bahwa ayat di surat Ali ‘Imran itu merupakan pemberitaan bahwa setelah nabi Muhammad diutus, segala bentuk jalan (thariqah) atau amal yang dilakukan seorang tidak akan diterima oleh Allah melainkan harus sesuai dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun, sebelum diutusnya beliau, siapa saja yang mengikuti seorang nabi yang ada pada zamannya, dia berada dalam suatu petunjuk, jalan kebenaran, dan keselamatan.
Jadi, ayat ini terkait dengan umat Yahudi dan Nasrani sebelum diutusnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, setelah diutusnya beliau, keabsahan iman umat Yahudi dan Nasrani tergantung keimanan mereka kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika mereka menolak, maka tidak bisa dikatakan sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Dengan demikian, keimanan kepada Allah memiliki hubungan yang erat dengan keimanan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua: Ayat-ayat Al Quran saling menjelaskan satu sama lain. Sehingga, tidak sepatutnya kita mencomot salah satu ayat tanpa menghiraukan ayat yang lain. Kaum pluralis ini hendak menyamakan keimanan Islam dengan agama-agama lainnya. Tapi, apakah bentuk keimanan kita sama dengan bentuk keimanan mereka? Jawabnya adalah tidak. Allah telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya. Allah memberitakan perihal Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani (yang artinya), “Maka jika mereka beriman seperti keimanan kalian, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Baqarah: 137).
Firman Allah ini jelas menyatakan keimanan mereka tidaklah sama dengan keimanan kaum muslimin. Oleh karena itu, mereka tidak akan mendapatkan petunjuk sebelum beriman seperti keimanan kaum muslimin.
Ketiga: Meskipun mereka beriman kepada Allah, tapi bentuk keimanan mereka adalah keimanan yang bercampur dengan kesyirikan. Oleh karena itu, Allah mengecap mereka dengan kekufuran.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam.” (QS. Al Maidah: 17).
Beriman kepada Allah akan tetapi juga beriman kepada tuhan selain Allah itu adalah kesyrikan kepada Allah dan itu merupakan kekufuran. Maka tidak ada bedanya antara orang-orang-orang kafir Quraisy dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, tidak ada beda di antara mereka, karena mereka adalah orang-orang yang musyrik kepada Allah. Hal ini ditegaskan lebih lanjut dalam firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6).
Keempat: Dengan adanya penyimpangan tersebut, Allah pun mengutus nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperjuangkan, mendakwahkan, dan menegakkan Islam sehingga Islam menjadi agama yang paling tinggi.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash Shaf: 9).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menyatakan, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini yang mendengarku, baik dia adalah serang Yahudi atau Nasrani, kemudian meninggal dan tidak beriman kepada ajaranku, niscaya dia termasuk ke dalam penduduk neraka.”[9]
Luntur dengan Sendirinya
Paham pluralisme sebenarnya berusaha untuk melunturkan akidah kaum muslimin dengan menggiring secara perlahan-lahan, menggunakan bahasa yang indah memukau, yang dibungkus dengan slogan toleransi beragama. Namun, pada hakekatnya, hal tersebut merupakan upaya untuk menanggalkan akidah kaum muslimin, karena keimanan seorang yang mengamini paham tersebut bisa luntur dengan sendirinya, tanpa intervensi (paksaan) dari pihak lain. Wal ‘iyadzu billah.
Jika dikatakan bahwa pluralisme ini bertujuan untuk menghilangkan berbagai konflik kekerasan antar umat beragama yang kerap terjadi karena enggan menghargai keberagaman. Maka hal ini dapat dijawab bahwa Islam telah mencontohkan bagaimana hidup saling menghormati dan menghargai antar sesama pemeluk agama yang berbeda-beda. Sejarah telah mencatat kegemilangan Islam dalam hal ini. Islam menghargai keberagaman, tapi hal itu bukan berarti kaum muslimin harus menanggalkan akidah bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan memberikan keselamatan bagi umat manusia. Konsep menghargai keberagaman (pluralitas) tanpa membenarkan pluralisme itupun banyak ditunjukkan dalam ayat-ayat yang menerangkan tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Dalam konsep Islam, siapa yang mau beriman, silahkan beriman, siapa yang mau kafir, silahkan kafir. Akibatnya tanggung sendiri.[10][11] Wallahul muwaffiq. [Sumber At- Tauhid VI / 46]
_____________
[1] Paham yang menyatakan semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, dalam pengertian yang lain, pengusungnya menyatakan bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga -karena kerelatifannya- maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. [Pluralisme Agama: Musuh Agama-agama; Dr. Adian Husaini].
[2] Tafsir al Quran al ‘Azhim; Maktabah Asy Syamilah.
[3] Mengenai hal tersebut, pembaca dapat melihat surat Al A’raaf dimulai dari ayat 59 dst.
[4] Istilah “agama samawi” (agama langit) ini pun sebenarnya merupakan istilah yang rancu, karena pada hakekatnya agama yang dibawa oleh nabi Musa dan Isa adalah agama Islam, tapi dengan bentuk syari’at yang berbeda satu sama lainnya. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang kemudian untuk menyempurnakan ajaran keduanya. Syaikh Shalih alusy Syaikh hafizhahullah memiliki pemaparan ringkas yang sangat bermanfaat dan disertai berbagai dalil mengenai hal ini dalam Syarh Fadl al Islam hlm. 57-59.
[5] Para pengusung paham ini sering menafsirkan ayat-ayat Alquran tanpa ukuran metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara disiplin ilmu tafsir. Mazhab kontekstual ditekankan untuk sejumlah teks yang diduga antikemajemukan beragama. Dan, di sisi lain, mazhab literal diterapkan untuk ayat-ayat yang mendukung pluralisme. [Pluralisme Agama; Tiar Anwar Bachtiar].
[6] Pembaca yang berkeinginan melihat lebih lanjut analisa berbagai ayat yang dipelintir oleh kaum pluralis dapat melihat artikel saudara kami, Abu Mushlih, yang berjudul Tumbangnya Pokok-Pokok Pluralisme dan artikel Bapak Muhammad Nurdin Sarim yang berjudul Telaah Kritis Pluralisme Agama.
[7] Telaah Kritis Pluralisme Agama hlm. 9; Muhammad Nurdin Sarim.
[8] Tafsir al Quran al ‘Azhim; Maktabah Asy Syamilah.
[9] HR. Muslim: 153.
[10] Al Kahfi: 29.
[11] Pluralisme Agama: Musuh Agama-agama.